Tim Kosabangsa UKI Toraja Edukasi Sistem Terpadu Budidaya Cabai Katokkon dan Limbah Tedong Bonga
Kosabangsa adalah skim pengabdian masyarakat terbaru yang telah diluncurkan secara kompetitif tahun 2023 oleh DRTPM Kemendikbudristek.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/toraja/foto/bank/originals/06112023_bibit_cabai_katokkon.jpg)
Penulis: Dr. Perdy Karuru, M.Pd
Dosen UKI Toraja
Tim Kosabangsa
TRIBUNTORAJA.COM - Universitas Kristen Indonesia Toraja (UKI Toraja) mendapatkan dua judul penelitian Kolaborasi Sosial Membangun Masyarakat (Kosabangsa) yang didanai oleh Direktorat Riset Teknologi dan Pengabdian Masyarakat (DRTPM) tahun ajaran 2023, setelah melalui beberapa tahapan seleksi.
Kosabangsa adalah skim pengabdian masyarakat terbaru yang telah diluncurkan secara kompetitif tahun 2023 oleh DRTPM Kemendikbudristek.
Ada perbedaan skim pengabdian Kosabangsa dengan skim pengabdian lain yang selama ini telah
dikenal oleh para dosen yaitu kewajiban kolaborasi perguruan tinggi (PT) pelaksana dengan perguruan tinggi pendamping.
Salah satu skim pengabdian Program Kosabangsa di UKI Toraja yaitu mengembangkan teknologi pertanian terpadu tanaman Lada Katokkon atau Cabai Katokkon (Capsicum chinense Jacq) dan limbah (feses) Tedong Bonga.
Adapun tim pelaksana UKi Toraja diketuai Dr Drs Perdy Karuru MPd dengan anggota Sepsriyanti Kannapadang SSi MSi dan Afra Andre Pasanda SSi MSi.
Sementara tim pendamping dari Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari yaitu Prof Dr Ir Muhammad Taufik MSi, Dr Ir Hj Gusnawaty HS SP MP IPM, dan Achamd Selamet Aku SPt MSi.
Kosabangsa ini menyasar kelompok tani di Lembang Sandana, Kecamatan Bittuang, Kabupaten Tana Toraja, khususnya kelompok wanita tani (KWT) Mawa dan KWT Tappuling.
Pola integrasi antara tanaman dan ternak merupakan bentuk implementasi fokus pengabdian DRTPM yaitu green economy atau ekonomi hijau yang dicirikan dengan keberlanjutan (sustainability).
Sementara dari sisi perguruan tinggi atau PT, ini merupakan bentuk-bentuk penerapan indikator kinerja utama (IKU) yang telah ditetapkan oleh Kemendikbudristek seperti Hasil kerja dosen digunakan masyarakat dan rekognisi internasional (IKU 5), mahasiswa mendapat pengalaman di luar kampus (IKU 2), atau dosen berkegiatan di luar kampus (IKU 3).
Adapun mahasiswa yang dilibatkan pada kegiatan kosabangsa berbentuk magang, tugas akhir dan rekognisi mata kuliah sebagai bentuk pelaksanaan program Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka (MBKM) Kemendikbudristek Dikti.
Peningkatan kinerja dosen-dosen PT di dalam pencapaian IKU akan berimplikasi peningkatan peringkat PT sehingga perhatian Pemerintah-Kemendikbud akan semakin tinggi dan respon masyarakat juga akan semakin baik terhadap PT tersebut.
Pemilihan dua komoditas ikonik Toraja oleh Tim Kosabangsa UKI Toraja didasarkan pada analisis situasi yang telah dilakukan sebelumnya dan menemukan permasalahan mitra yaitu turunnya produktivitas cabai Katokkon dari waktu ke waktu, dan belum dipadukannya limba feses tedong bonga sebagai bagian yang tidak terpisahkan pada sistem budidaya tanaman yang lebih berkelanjutan.
Ketergantungan petani cabai pada bahan kimia sintetis juga menjadi permasalahan yang perlu diedukasi agar penggunaan lebih bijaksana.
Beberapa Inovasi teknologi yang diedukasi ke mitra sasaran sebagai solusi terhadap permasalahan adalah introduksi agens hayati Trichoderma sp., baik dalam bentuk padat maupun cair.
Agens hayati tersebut ditambahkan ketika proses komposting limba feses atau sebagai fungisida nabati.
Agens hayati dapat berperan sebagai biocontrol preventif untuk menekan penyakit tular tanah.
Kelompok wanita tani juga diedukasi cara-cara penyemaian benih cabai katokkon yang lebih baik misalnya dengan memanfaatkan beberapa media semai seperti rockwool dan media tanah yang telah dikomposting secara baik sebagai tahap awal cara-cara budidaya yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Untuk memudahkan petani mendapatkan feses yang berfermentasi plus (Trichoderma sp.), maka tim Kosabangsa UKI Toraja menyediakan sarana pendukung yaitu kandang kerbau belang (tedong bonga) yang terintegrasi dengan bak fermentasi, screen house, serta lahan demplot cabai Katokkon.
Tim pelaksana kosabangsa UKI Toraja telah melakukan edukasi melalui bimbingan teknis penyemaian benih cabai katokkon pada media rockwool dan pembuatan media tumbuh serta pembuatan bahan organik terfermentasi.
Mitra masyarakat telah melakukan benih cabai katokkon dengan air hangat dan penambahan zat pengatur tumbuh dapat mempercepat pematahan dormansi dan perkecambahan benih.
Selanjutnya benih cabai Katokkon disemaikan pada media rockwool.
Penggunaan media ini memberikan beberapa keuntungan yaitu benih tidak mudah terkontaminasi dengan patogen-patogen yang biasanya terikut di dalam tanah (soil borne disease), pertumbuhan lebih seragam, benih lebih bersih dan benih tidak mudah mengalami stress ketika pindah tanam karena kemampuannya mengikat air.
Petani mitra juga telah membuat media semai dengan komposisi; feses tedong bonga, daun gamal, dedak, EM 4 dan penambahan decomposer antagonis yaitu Trichoderma sp.
Petani mitra sangat antusias menerima edukasi dari tim Kosabangsa, ditandai dengan kehadiran dan berpartisipasi secara aktif pada setiap kegiatan.
Peningkatan pengetahuan dan keterampilan bagi petani akan meningkatkan level keberdayaan dan kesejahteraannya.
Sementara itu infrastruktur pertanian terpadu telah disiapkan yang selanjutnya dapat digunakan oleh petani cabai Katokkon untuk menerapkan model pertanian terpadu cabai Katokkon dan tedong bonga.
Namun demikian dibutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak untuk mendukung program kosabangsa
UKI Toraja dapat berjalan secara berkelanjutan.(*)