Rabu, 15 April 2026

Segini Suhu Tertinggi Bulan Oktober di Wilayah Toraja Berdasarkan Data BMKG

Untuk Kabupaten Tana Toraja dan Toraja Utara, suhu maksimum pada bulan Oktober tahun 2023, berada pada kisaran 27-33 derajat Celcius.

Tayang:
Penulis: Muhammad Rifki | Editor: Apriani Landa
zoom-inlihat foto Segini Suhu Tertinggi Bulan Oktober di Wilayah Toraja Berdasarkan Data BMKG
TribunToraja/Rifki
Pengunjung di Pasar Sentral Makale terlihat menyebrang jalan menggunakan payung untuk melindungi diri dari paparan sinar matahari langsung, Selasa (10/10/2023) siang. 

TRIBUNTORAJA.COM, MAKALE - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merespons terkait gelombang panas atau cuaca panas dan terik yang belakangan ini melanda Indonesia, terkhusus wilayah Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel).

Untuk Kabupaten Tana Toraja dan Toraja Utara, suhu maksimum pada bulan Oktober tahun 2023, berada pada kisaran 27-33 derajat Celcius.

Hal tersebut, berdasarkan data 20 tahun rata-rata suhu maksimum untuk bulan Oktober di Toraja.

“Wilayah Toraja selama bulan ini, tercatat suhu maksimum berada pada kisaran 27-33 derajat Celcius. Rata-rata suhu maksimum bulan Oktober selama 20 tahun terakhir di wilayah Toraja bernilai 31,2 celcius,” ujar Prakirawan di Stasiun Meteorologi BMKG Toraja, Diar Aofany, saat dihubungi Senin (10/10/2023) sore Wita.

Lebih lanjut, menurut Diar, peningkatan suhu udara di wilayah Toraja dapat disebabkan oleh beberapa faktor.

“Salah satunya karena gerak semu matahari, di mana pada bulan September-Oktober, bergerak ke selatan equator,” kata Diar.

Gerak semu matahari inilah yang membuat sebagian besar wilayah Indonesia bagian selatan mengalami peningkatan suhu udara.

“Selain itu, faktor lainnya yang dapat mendukung peningkatan suhu udara adalah kecepatan angin, tutupan awan, dan kelembaban udara,” terang Diar.

September hingga Oktober Puncak Kekeringan 2023

Sebelumnya, BMKG turut menyampaikan, bulan September hingga Oktober akan menjadi puncak dari kekeringan pada tahun 2023 di Indonesia, terkhusus Provinsi Sulsel.

Hal ini ditengarai tiga faktor fenomena global yang terjadi bersamaan yaitu: kemarau, El Nino, dan ekuinoks.

“Bahwa faktor kenapa September dan Oktober, dikarenakan El Nino, kemarau, dan ekuinoks yang berbarengan,” kata Diar.

“Hal tersebut adalah fenomena global yang artinya, efeknya terjadi tidak hanya di Indonesia. Jadi tentu, wilayah Toraja (Kabupaten Tana Toraja dan Toraja Utara) juga mendapati pengaruhnya,” lanjutnya.

Keterangan BMKG juga menjelaskan, dampak El Nino tergantung pada intensitas El Nino, durasi El Nino, dan musim yang sedang berlangsung.

Dampak El Nino di Indonesia umumnya terasa kuat pada musim kemarau seperti pada bulan-bulan Juli-Agustus-September-Oktober.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved