Gelombang Panas
Tana Toraja Panas, Pelajar Pakai Sunblock ke Sekolah
BMKG menyampaikan bulan September hingga Oktober 2023 akan menjadi puncak kekeringan di Indonesia
Penulis: Muhammad Rifki | Editor: Imam Wahyudi
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/toraja/foto/bank/originals/Pelajar-SM3ee.jpg)
TRIBUNTORAJA.COM, MAKALE - Warga Kota Makale, Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel), turut merasakan gelombang panas yang sedang melanda sebagian besar wilayah Indonesia.
Padahal sebagai daerah dataran tinggi, cuaca Tana Toraja cukup sejuk.
Pada Selasa (10/10/2023), suhu udara Tana Toraja menyentuh angka 29 derajat celcius.
Padahal, suhu udara rata-rata Tana Toraja di level 15 hingga 28 derajat celcius.
Tak terbiasa dengan cuaca panas, warga Makale yang beraktivitas di luar ruangan pun harus mengunakan payung, topi, dan penutup kepala lainnya saat berada di luar ruangan.
“Akhir-akhir ini cuaca memang cukup panas, terik begitu,” ucap siswi SMP Katolik Pelita Bangsa, Stefani Scolastika, kepada Tribun Toraja, Selasa (10/10/2023) siang.
Rekan Stefani, Venezia Sinnong La'bi Andi Lolo, mengaku menggunakan krim sunblock untuk melindungi kulitnya dari paparan sinar matahari.
“Sebelum berangkat ke sekolah, saya pakai sunblock di wajah dan lengan untuk melindungi kulit,” kata siswi kelas 8 ini.
Fenomena Global
BMKG memprediksi bulan September hingga Oktober 2023 akan menjadi puncak kekeringan di Indonesia, termasuk di Kabupaten Tana Toraja.
Hal ini disebabkan tiga fenomena global terjadi bersamaan.
Yaitu musim kemarau, El Nino, dan ekuinoks.
“Bahwa faktor kenapa September dan Oktober sangat panas, dikarenakan El Nino, kemarau, dan ekuinoks yang berbarengan,” ucap Prakirawan di Stasiun Meteorologi BMKG Toraja, Diar Aofany saat dikonfirmasi, beberapa waktu lalu.
“Hal tersebut adalah fenomena global, yang artinya efeknya terjadi tidak hanya di Indonesia. Jadi tentu, wilayah Toraja (Kabupaten Tana Toraja dan Toraja Utara) juga mendapati pengaruhnya,” lanjutnya.
Dampak El Nino di Indonesia umumnya terasa kuat pada musim kemarau yaitu pada bulan Juli-Agustus-September-Oktober.
Untuk wilayah Provinsi Sulawesi Selatan, El Nino menyebabkan curah hujan menjadi sangat rendah dengan intensitas 0-100 milimeter.