8 Pejabat Bendungan yang Runtuh dan Jadi Penyebab Banjir Libya Dipenjara
Bendungan tersebut tidak dipelihara selama beberapa dekade, meskipun sebelumnya telah ada peringatan dari para ilmuwan bahwa bendungan tersebut...
Penulis: Redaksi | Editor: Donny Yosua
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/toraja/foto/bank/originals/jalan-ambruk-banjir-besar-libya-1292023.jpg)
TRIBUNTORAJA.COM, LIBYA - Kepala jaksa Libya mengatakan bahwa dia telah memerintahkan penahanan delapan pejabat dan mantan pejabat sambil menunggu penyelidikan atas runtuhnya dua bendungan di Libya awal bulan ini.
Bencana tersebut membuat banjir besar dan menewaskan ribuan orang di Libya.
Dua bendungan di luar kota Derna jebol pada 11 September setelah dihantam Badai Daniel, yang menyebabkan hujan lebat di Libya timur.
Runtuhnya bangunan-bangunan tersebut menggenangi seperempat kota dan menghancurkan wilayah yang dilewatinya dan menghanyutkan orang ke laut.
Seperti dikutip dari The Associated Press, pejabat pemerintah dan lembaga bantuan memperkirakan jumlah korban tewas berkisar antara lebih dari 4.000 hingga lebih dari 11.000 orang.
Hingga kini masih banyak mayat yang berada di bawah reruntuhan bangunan.
Baca juga: Bantu Korban Banjir Libya, Mesir Kirim Kapal Induk untuk Dipakai Jadi RS Lapangan
Sebuah pernyataan dari kantor Jaksa Agung al-Sidiq al-Sour mengatakan, jaksa pada hari Minggu menginterogasi tujuh mantan dan pejabat saat ini di Otoritas Sumber Daya Air dan Otoritas Pengelolaan Bendungan dengan tuduhan adanya kelalaian dan kesalahan berkontribusi terhadap bencana tersebut.
Delapan mantan pejabat dan pejabat tersebut, hingga saat ini tidak dapat memberikan bukti yang dapat menghindarkan mereka dari dakwaan, dan jaksa memerintahkan mereka dipenjara sambil menunggu selesainya penyelidikan.
Jaksa penuntut mengatakan delapan pejabat lainnya akan dipanggil untuk dimintai keterangan.
Baca juga: PBB: Jumlah Korban Tewas Banjir Libya Capai 11.300 Orang