PLTMH Maiting
Terungkap Alasan Warga Desa Pangkaruan Manuk Demo PLTMH Maiting, Kepala Desa Ikut Protes
Jika biasanya mereka bisa panen tiga kali dalam setahun, kini hanya bisa sekali dalam setahun.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/toraja/foto/bank/originals/Unjuk-rasa-Petani-di-PLTMH.jpg)
TRIBUNTORAJA.COM - Puluhan warga Desa Pangkaruan Manuk, Kecamatan Buntupepasan, Toraja Utara, melakukan aksi unjukrasa di depan kantor Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) Maiting, beberapa waktu lalu.
Warga protes lantaran sawah mereka kering sejak PLTMH Maiting beroperasi.
Menurut Kepala Desa Pengkaruan, Mikha Tanduk Layuk, sejak PLTMH Maiting beroperasi, hasil panen mereka berkurang drastis. Jika biasanya mereka bisa panen tiga kali dalam setahun, kini hanya bisa sekali dalam setahun.
Hal ini disebabkan karena paskan air dari Sungai Maiting berkurang drastis. Penyebabnya, pengelola PLTMH Maiting membuat bendungan dan mengalirkan air Sungai Maiting ke proyek PLTMH tersebut.
Sawah para petani yang biasanya mendapat suplai air dari Sungai Maiting, kini berangsur menjadi kering. Bahkan, beberapa di antaranya dibiarkan oleh pemiliknya dan menjadi lahan tidur.
“Kami sangat kesulitan. Sawah sudah satu tahun lebih kering selama PLTMH Maiting ini beroperasi,” ujar Kepala Desa Pengkaruan, Manuk, Mikha Tanduk Layuk, Rabu (2/8/2023).
Mikha mengatakan, PLTMH Maiting membuat bendungan dan beroperasi di Sungai Maiting pada tahun 2022.
MIkha menuturkan, pengelola PLTMH Maiting hanya menyalurkan 15 persen air Sungai Maiting ke sawah warga. Selebihnya dialirkan ke proyek tersebut.
“Kalau sekarang hanya bisa satu kali panen dalam satu tahun. Mereka kan buat bendungan di sana, jadi pembagian airnya 85 persen ke PLTMH sementara masyarakat dapat cuma 15 persen,” ungkapnya.
“Mata pencaharian warga kami ini sebagian besar sebagai petani, jadi kalau itu tidak ada mereka kehilangan mata pencaharian,” ketusnya.
Sementara, Teknisi PLTMH Maiting, Ahmad mengutarakan, sementara ini pihaknya melakukan tindakan penanganan kepada masyarakat terdampak kekeringan.
Menurutnya hal tersebut dikarenakan adanya titik longsor yang membuat air tidak melewati saluran sampai ke masyarakat.
“Memang ada titik longsor di sana sehingga air tidak melewati aliran sampai ke masyarakat. Semua kan butuh proses yah, memang ada sebagian kita sudah kerja, tapi tidak sekaligus. Mengenai suplai air ke masyarakat sementara kita berbenah,” katanya terpisah.
Profil PLTMH Maiting
Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTMH) Maiting Hulu - 2 memiliki kapasitas 2 x 4 megawatt (MW).
PLTM Maiting Hulu - 2 merupakan pembangkit yang dibangun dan dioperasikan oleh produsen listrik swasta (independent power producer atau IPP), yaitu PT Brantas Prospek Energy. Pengoperasian pembangkit ramah lingkungan ini dapat melistriki 8.000 rumah tangga dengan daya 900 Volt Ampere (VA).
Energi hijau yang dihasilkan oleh PLTMH Maiting akan dikirim melalui jaringan tegangan menengah (JTM) 20 Kilo Volt (kV) sepanjang 31 kilometer sirkuit (kms) ke titik interkoneksi milik pembangkit swasta dan PLN di Gardu Hubung Kalimbuang dan Rantepao untuk kemudian, listrik dialirkan kepada pelanggan di Kabupaten Toraja Utara.(*)