Senin, 4 Mei 2026

Virus ASF

Mengenal Virus ASF, Virus yang Menyebabkan Ribuan Babi di Sulsel Mati Mendadak, Kenali Ciri-cirinya

Akibat banyaknya ternak babi yang mati, warga Tana Toraja dan Toraja Utara yang menggunakan babi untuk upacara adat, mulai khawatir.

Tayang:
Editor: Muh. Irham
zoom-inlihat foto Mengenal Virus ASF, Virus yang Menyebabkan Ribuan Babi di Sulsel Mati Mendadak, Kenali Ciri-cirinya
ist
Ilustrasi virus ASF 

TRIBUNTORAJA.COM - Para peternak babi di Indonesia, khususnya di Tana Toraja, Toraja Utara, Palopo, dan sekitarnya, resah. Selama beberapa bulan terakhir, puluhan ribu ternak babi tiba-tiba mati. Berdasarkan hasil pemeriksaan tim medis kesehatan ternak, babi-babi lokal ini mati karena terinfeksi virus African Swine Fever (ASF).

Akibat banyaknya ternak babi yang mati, warga Tana Toraja dan Toraja Utara yang menggunakan babi untuk upacara adat, mulai khawatir. Pemerintah di Kabupaten Tana Toraja dan Toraja Utara mulai melakukan penyekatan untuk membatasi jumlah ternak babi yang masuk ke daerah itu.

Ternak babi yang masuk, harus menjalani pemeriksaan secara menyeluruh untuk memastikan babi tersebut bebas dari virus ASF.

Lantas, apa itu virus African Swine Fever (ASF) sehingga bisa membuat ribuan ternak babi mati mendadak?

Dikutip dari laman Departement of Agriculture, Environment and Rural Affairs, Minggu, (14/5/2023). African Swine Fever (ASF) adalah penyakit virus babi yang sangat menular.

Dalam bentuk akut, penyakit ini umumnya mengakibatkan kematian yang tinggi.

ASF adalah penyakit yang berbeda dengan flu babi. Virus tidak mempengaruhi manusia dan tidak berdampak pada kesehatan manusia.

Pada Januari 2022 lalu, serangan ASF menyebar ke seluruh Eropa yang melanda babi hutan di Italia.

Ini adalah kasus ASF pertama yang dilaporkan di daratan Italia. Saat itu, wabah ini juga telah terdeteksi untuk pertama kalinya di Makedonia Utara di halaman belakang dekat perbatasan Bulgaria.

Empat kasus ASF kemudian terdeteksi pada babi domestik di Jerman sejak kasus domestik pertama dilaporkan pada Juli 2021 lalu. Di tempat lain, wabah yang sering terjadi pada babi domestik masih dilaporkan di Moldova, Rumania, Rusia, dan Ukraina.

ASF juga terus dilaporkan pada babi hutan di seluruh Eropa.

Pada umumnya, penyebaran ASF karena kontak langsung dengan babi liar atau babi lain yang terinfeksi. Konsumsi pakan yang terkontaminasi juga menjadi jalan penularan virus tersebut.

Tanda-tanda klinis dan angka kematian akibat ASF dapat bervariasi sesuai dengan virulensi virus dan jenis spesies babi.

Namun, pada umumnya babi yang terinfeksi ASF mengalami demam tinggi, depresi, anoreksia dan kehilangan nafsu makan, perdarahan pada kulit (kemerahan pada telinga, perut dan kaki), sianosis, muntah, hingga diare.

Babi yang terjangkit ASF biasanya mati 6-20 hari kemudian setelah terjangkit virus ASF. Berbagai jenis babi mungkin memiliki kerentanan berbeda terhadap infeksi virus tersebut.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved