Bencana Alam

Alasan BPBD Toraja Utara Lambat Tangani Longsor, Alat Berat Kami Hanya Satu dan Rusak

Toraja Utara memiliki luas wilayah hingga 1.151 km per segi. Sebagian besar wilayah ini terdiri dari pegunungan yang rawan terkena longsor.

Editor: Muh. Irham
ist
Warga berusaha melewati jalan yang masih tertutup material longsor di Desa atau Lembang Buntu Karua, Kecamatan Awan Rantekarua, Toraja Utara. Sudah tujuh hari meterial longsor tidak juga disingkarkan, BPBD beralasan alat berat cuma satu dan baru selesai diperbaiki. 

TRIBUNTORAJA.COM - Kabupaten Toraja Utara adalah salah satu daerah rawan bencana, khususnya tanah longsor. Hampir setiap tahun terjadi bencana longsor di daerah ini yang menyebabkan kerusakan yang ringan hingga kerusakan parah.

Toraja Utara memiliki luas wilayah hingga 1.151 km per segi. Sebagian besar wilayah ini terdiri dari pegunungan yang rawan terkena longsor.

Setidaknya ada lima kecamatan di Toraja Utara yang masuk dalam kategori siaga bencana. 

Kelima kecamatan itu yakni, Kecamatan Tallunglipu, Kecamatan Kapala Pitu, Kecamatan Rindinggallo, Kecamatan Buntu Pepasan, dan Kecamatan Baruppu.

Hanya saja, meski rawan bencana, namun Pemkab Toraja Utara dinilai tidak siap menghadapi bencana. Pasalnya, pemerintah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Toraja Utara, lamban menangani kasus bencana alam di daerah itu.

Beberapa titik longsor hingga pekan ini belum ditangani. 

Salah satunya di poros Pangala’-Awan. Di daerah ini ada dua titik longsor yang belum ditangani yakni, Lembang Buntu Karua, Kecamatan Awan Rantekarua dan Lembang Parinding Kecamatan Rindingallo.

Padahal, longsor di daerah itu terjadi peka lalu.

Karena belum tertangani, warga yang tinggal di daerah itu, harus berjuang melewati material tanah longsor hingga batang kayu pohon yang ikut bersama material.

Warga pun berinisiatif melakukan pembersihan material longsor secara swadaya agar ruas jalan yang tertutup longsor, bisa dilewati kendaraan.

Selain di Pangala’-Awan, jalan poros Embang-La’bo, yang menghubungkan Kecamatan Tondon dan Kecamatan Sanggalangi’, juga belum ditangani. Padahal longsor di jalan poros ini sudah berlangsung sejak lama.

Menanggapi lambannya BPBD Toraja Utara menangani bencana longsor, Sekretaris BPBD Toraja Utara, Yohanis mengatakan, mereka lambat lantaran peralatan berat yang mereka miliki sangat minim.

“Alat berat yang kami milik hanya satu unit. Itu pun sudah sekitar dua bulan ini rusak. Baru tiga hari ini keluar dari bengkel,” tutur Yohanis.(*)

 

Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved