Dr Elim Lolodatu Gerakkan Ekonomi Keluarga di Tengah Pandemi Covid-19
Ia mengatakan, keinginannya membuka sekolah usaha ini sebagai langkah memotivasi masyarakat untuk memiliki usaha.
Penulis: Kristiani Tandi Rani | Editor: Apriani Landa
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/toraja/foto/bank/originals/14022023_Dr_Elim_Lolodatu.jpg)
TRIBUNTORAJA.COM, MAKALE - Mewabahnya Covid-19 di Indonesia menyebabkan pemerintah menghimbau masyarakat untuk membatasi kontak fisik.
Kegiatan sehari-hari seperti bekerja, belajar, serta beribadah disarankan untuk dilakukan di rumah masing-masing.
Pembatasan kontak fisik alias physical distancing ini memberikan dampak signifikan bagi banyak pihak, salah satunya pelaku bisnis.
Tidak sedikit pelaku usaha, mulai dari tingkat UMKM hingga skala besar yang mengungkapkan penurunan pemasukan selama pandemi.
Tapi, berbanding terbalik yang dilakukan Founder Yayasan Tolaen, Dr Elim Lolodatu SMI MM.
Ia mendirikan sekolah wirausaha berbasis keluarga di tengah maraknya pandemi Covid-19.
Hal ini dikatakannya saat menjadi narasumber dalam podcast Bincang Ekslusif #9 dengan tema "Menciptakan Sinergitas Lintas Pelaku Usaha (UMKM) Menuju Kesejahtraan Bersama", Sabtu (11/2/2023).
Ia mengatakan, keinginannya membuka sekolah usaha ini sebagai langkah memotivasi masyarakat untuk memiliki usaha.
"Dasar pemikiran saya kenapa membuka sekolah usaha yaitu setelah pandemi ini, setiap orang harus punya usaha," katanya.
Untuk melahirkan pengusaha yang hebat perlu proses belajar, salah satunya dengan sekolah usaha.
"Bagaimana mereka berusaha kalau mereka tidak belajar," ujarnya.
Hal itu yang menjadi motivasi bagi Dr Elim Lolodatu untuk membuka sekolah usaha berbasis keluarga dengan mendominasi materi mengenai dasar ilmu usaha.
"Makanya saya mencoba untuk memberi pelajaran-pelajaran praktis, bagaimana merintis sebuah usaha, membuat rencana bisnis, proposal bisnis, studi kelayakan bisnis, rencana masa depan," tuturnya.
Tentu dengan memiliki usaha, menjadi solusi pemulihan ekonomi masyarakat di tengah pandemi.
"Bagaimana bertahan dalam menghadapi kehidupan yang serba krisis karena pandemi," imbuhnya.