Mentuyo di Kalangan Anak Muda, Dosen UKI Paulus: Rugi dari Semua Aspek
Tindakan mentuyo sangat kuat di pengaruhi oleh nilai-nilai budaya dan kepercayaan tradisional orang Toraja tentang kematian.
Penulis: Freedy Samuel Tuerah | Editor: Apriani Landa
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/toraja/foto/bank/originals/05012023_tewas_gantung_diri.jpg)
TRIBUNTORAJA.COM - Kasus bunuh kian marak di kalangan anak muda di Toraja. Beberapa hari lalu, seorang siswa SMK nekad mengakhiri hidupnya dengan gantung diri.
Diduga, ia melakukan hal tersebut karena masalah asmara.
Bunuh diri atau mentuyo adalah fenomena sosial yang sangat kompleks.
Penulis buku "Mentuyo", Kristian HP Lambe, mengatakan banyak faktor yang memicu seseorang melakukan tindakan nekat tersebut.
Dalam bukunya ia mengulas faktor-faktor tersebut.
Pertama, kata dosen Pascasarjana UKI Paulus ini menjelaskan bahwa seseorang melakukan mentuyo akibat merasa bosan dengan kehidupan.
"Misalnya tidak dapat menahan penyakit yang diderita, kemurungan jiwa, merasa cemburu, dan kecewa karena hubungan percintaan yang tidak berjalan mulus," kata Kristian kepada kepada TribunToraja.com.
Kedua, mentuyo bagi orang Toraja bukanlah aib atau perbuatan dosa. Jasad pelaku mentuyo diperlakukan sama seperti kematian pada umumnya.
Menurut ajaran Aluk Todolo, status kematian karena mentuyo, karena sakit, atau kecelakaan sama saja. Cara kematiannya saja yang berbeda.
Tindakan mentuyo sangat kuat di pengaruhi oleh nilai-nilai budaya dan kepercayaan tradisional orang Toraja tentang kematian.
"Hasil wawancara mendalam dari berbagai informan dan analisis dari catatan pribadi yang ditinggalkan pelaku bunuh diri, ditemukan satu hal yang sangat mecengangkan. Motivasi utama untuk bunuh diri adalah ingin mengakhiri penderitaan," katanya.
Selain karena faktor asmara, beban utang yang tidak bisa dilunasi juga menjadi salah satu penyebab seseorang mengambil jalan pintas.
Diperlukan pemahaman komprehensif tentang nilai-nilai kultural, keagamaan, dan pengaruh lingkungan eksternal untuk mencegah generasi muda atau siapapun untuk menjadikan bunuh diri sebagai jalan terakhir mengakhiri penderitaan atau beban hidup.
Diperlukan sosialisasi, edukasi dan pemberian pemahaman kepada seluruh warga khusunya anak-anak muda bahwa hidup tidak selalu easy going.
Tak seorang pun yang menjalani hidupnya tanpa rintangan dan cobaan.