Gereja Toraja
Sejarah Gereja Toraja Pertama di Makassar -2-
Pembangunan Gedung Pertemuan dan Passangrahan dimulai pada Januari 1931 dan ditahbiskan pada hari Senin, 1 Juni 1931.
Penulis: Freedy Samuel Tuerah | Editor: Apriani Landa
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/toraja/foto/bank/originals/05012023_Jemaat_Bawakaraeng.jpg)
TRIBUNTORAJA.COM, MAKASSAR - Jemaat Bawakaraeng merupakan Gereja Toraja pertama di Makassar. Hadir sejak tahun 1928, Jemaat Bawakaraeng terus berkembang hingga saat ini.
Tanggal 29 Juli 1929 diadakan pertemuan di rumah P Ruruk yang beralamat di Kampung Pisang (2 de Renggang weg), yang dihadiri oleh sekitar seratus orang termasuk Ds A Bikker, untuk membahas pencarian lokasi pembangunan Gedung Pertemuan dan Passangrahan.
Mereka menginginkan agar lokasi pembangunan tetap di Kampung Pisang dan di tempat tinggal P Ruruk. Lokasi dan rumah tersebut bukan kepunyaan P Ruruk, melainkan kepunyaan Martodirejo yang disewa oleh P Ruruk.
Pada 27 Januari 1930, rumah kediaman P Ruruk dibeli, termasuk lokasi yang merupakan tanah negara (erfpacht) yang dibayar dari hasil sumbangan berbagai pihak melalui les (urunan dana).
Pembangunan Gedung Pertemuan dan Passangrahan dimulai pada Januari 1931 dan ditahbiskan pada hari Senin, 1 Juni 1931.
Pentahbisan dihadiri oleh utusan-utusan Zendeling yang baru selesai mengadakan rapat luar biasa tanggal 29 Mei 1931 dari Dewan Zendeling Makassar yang dibentuk tanggal 24-27 Maret 1931.
Baca juga: Sejarah Gereja Toraja Pertama di Kota Makassar
Dewan Zendeling Makassar (DZM) ini beranggotakan Badan-badan Zending yang melayani di Poso, Kolaka, Mamasa, Makale-Rantepao, Sumba, Timor, Donggala (Gereja Bala Keselamatan), Gereja Protestan Makassar.
Pada 29 Mei 1931 jumlah anggota dari DZM tersebut bertambah dengan bergabungnya Kemah Injil dan Gereja Gereformeerd dari Jemaat Surabaya.
Dalam acara pentahbisan Torajahuis (Rumah Toraja) pada 1 Juni 1931 tersebut, para utusan Zendeling GZB menyumbangkan ukiran-ukiran Toraja yang kemudian diuangkan melalui lelang, yang hasilnya dimanfaatkan untuk mendukung pembangunan rumah yang sekaligus berfungsi atau difungsikan sebagai Gedung Pertemuan dan Passangrahan sebagaimana dimaksudkan di atas.
Rumah Passanggarahan dan Perhimpunan Toraja itu belakangan lebih dikenal sebagai “Banua Porimpunganna Toraya” (dialek Mamasa) yang bergabung dengan gedung gereja Maros (terletak di Jl Poros Makassar-Kota Maros saat itu nama jalannya) sampai dengan tahun 1951.
Rumah ini juga difungsikan sebagai rumah kos dan rumah transit bagi banyak orang Toraja yang datang mencari pekerjaan/bekerja dan belajar di Kota Makassar, diantaranya adalah Pdt J Lebang, Ulia Salurapa’, dan Masallo’ Sarungallo.
Ketika kemudian Zending CGK mendirikan jemaat tersendiri melalui Gereja Toraja Mamasa (GTM) yang berlokasi di Jl Gunung Salahutu Kota Makassar, hingga kini bernama GTM Jemaat Moria, maka pada saat itu pula pelayanan Gereja Toraja Makassar di bawah tanggung jawab para majelis Gereja Toraja Makassar.
Gereja Toraja Jemaat Maros menjadi Gereja Toraja Jemaat Bawakaraeng
Pada tahun 1947 pasca berdirinya Gereja Toraja, gereja ini menjadi Gereja Toraja Jemaat Makassar Klasis Istimewa, dan merupakan Gereja Toraja pertama di Makassar.
Pada tahun 1951 pintu depan/utama gedung gereja dibalik menjadi menghadap ke jalan poros Maros (sekarang jalan Gunung Bawakaraeng).
Oleh karena itu gereja tersebut lebih dikenal sebagai Gereja Maros.
Kini setelah Jalan Maros berubah nama menjadi Jalan Gunung Bawakaraeng, gedung gereja tersebut lebih dikenal sebagai Gereja Toraja Jemaat Bawakaraeng.
Pendeta yang Melayani Gereja Toraja Jemaat Bawakaraeng
Adapun pendeta-pendeta yang melayani di jemaat ini sejak tahun 1947 ketika sudah berubah nama dari Gereja Protestan Makassar menjadi Gereja Toraja Jemaat Makassar Klasis Istimewa sampai sekarang antara lain:
1. Ds J Sumbung
2. Ds J Limbong
3. Ds J Lebang
4. Ds J Siahaija
5. Pdt AJ Anggui
6. Pdt BD Biyang
7. Pdt JT Manapa' dan Guru Injil J Matana
8. Pdt DY Sarangnga'
9. Pdt DS Ambabunga
10. Pdt RJ Tutu
11. Pdt Musa Salusu
12. Pdt BD Biyang
13. Pdt Hermin Sangka'-Lambe'
14. Pdt AS Parrangan
15. Pdt Ny DM Anggui (Pendeta Konsulen)
16. Pdt AT Sitammu
17. Pdt Yuliaty Mangngi-Mangape
18. Pdt Musa Sikombong
19. Pdt Yusuf Paliling
20. Pdt Reni Yusuf
21. Pdt Menathan Tulak
22. Pdt Lili Danga
Pembangunan Gedung Gereja
Oleh karena kondisi bangunan lama yang menurut pengamatan beberapa pihak sudah tidak layak dan adanya potensi resiko bahaya yang diakibatkan kondisi tersebut, maka perlu adanya renovasi bangunan.
Sehingga dalam rapat pleno Majelis Gereja pada tanggal 11 Februari 1994 memutuskan untuk mengganti gedung lama dengan membangun gedung baru.
Saat itu juga dibentuk membentuk Panitia Perencanaan Pembangunan yang terdiri dari J Ba’ka, BBA, Ir Thomas Wong, Ny Sarah Karangan, Ny DS Ambabunga, JS Kadang, JS B Tapparan, Marthen Napang, Ny Abigael Salusu, dan Ir Saba Parinding.
Setelah kurang lebih delapan tahun perencanaan dan konsolidasi dana, panitia kecil ini pun diubah menjadi panitia pembanguan yang lebih besar di bawah pimpinan Kol Pnb MB Bangalino.
Setelah itu langsung melaksanakan peletakan batu pertama pada tanggal 31 Oktober 2002 oleh Walikota Makassar saat itu, HB Amiruddin Maula.
Setelah itu gedung lama pun langsung dibongkar total untuk pengerjaan pondasi.
Untuk pelaksanaan ibadah selama proses pembangunan, jemaat meminjam gedung aula Sekolah Kristen Kalam Kudus di Jl Sungai Cerekang, selama kurang lebih setahun sampai dengan pengecoran lantai dua rampung dan lantai satu bisa digunakan.
Pada tahun 2005, Kol Pnb MB Bangalino dan Thomas Wong meninggal dunia. Majelis Gereja pun melakukan lagi perombakan panitia.
Panitia melibatkan beberapa pihak yang rindu dan memberi diri untuk mengambil bagian dalam proses pembangunan ini.
Mereka adalah Prof dr Randanan Bandaso MSc, Prof Dr dr Daniel Sampepajung SpB(K)Onk, Drs Alex Palinggi, Capt Simon Mangngi.
Di bagian teknis juga bergabung Dr Ir Victor Sampebulu dan Prof Dr Herman Parung, serta masih banyak lagi.
Walaupun belum rampung seratus persen, gedung baru Gereja Toraja Jemaat Bawakaraeng dapat ditahbiskan pada tanggal 31 Oktober 2009 oleh Ketua BPMS Gereja Toraja, Pdt Soleman Batti MTh, bersama Wakil Walikota Makassar, H Supomo Guntur.
Turut hadir dalam acara penahbisan beberapa tokoh Toraja seperti Komjen Pol Insmerda Lebang, Litha Brent, Wakil Bupati Tana Toraja - A Palino Popang.
Adapun dana yang digunakan sampai dengan rampungnya gedung Gereja ini kurang lebih Rp 3,5 miliar yang semuanya bersumber dari persembahan jemaat, diaspora Toraja dalam dan luar negeri, serta pemerintah Kota Makassar maupun Kabupaten Tana Toraja.
Perkembangan Gereja Toraja di Makasaar hingga hari ini
Gereja Toraja di Makassar berkembang pesat dimulai dari mekar menjadi tiga jemaat melalui keputusan pleno majelis Gereja pada tanggal 28 Februari–2 Maret 1964 yaitu Gereja Toraja Jemaat Makassar Bagian Tengah (Bawakaraeng), Gereja Toraja Jemaat Makassar Bagian Utara (Bontoala), dan Gereja Toraja Jemaat Makassar Bahagian Selatan (Labuang Baji).
Kemudian membentuk Klasis (dahulu Komisi Usaha Klasis atau disingkat KUK, sekarang Badan Pekerja Klasis atau disingkat BPK) pada tanggal 21 Agustus 1964.
Melalui Sidang Klasis ke-14 tanggal 16–17 April 1973, seiring dengan perubahan nama Kota Makassar menjadi Ujung Pandang, nama Jemaat pun menyesuaikan menjadi Jemaat Ujung Pandang Tengah, Jemaat Ujung Pandang Utara, dan Jemaat Ujung Pandang Selatan.
Sampai dengan Sidang Klasis ke-21 pada tanggal 10 – 13 Juni 1983, Jemaat Ujung Pandang Tengah secara resmi berganti nama menjadi Gereja Toraja Jemaat Bawakaraeng sekaligus mekar melahirkan Jemaat Maccini Raya.
Perkembangan selanjutnya, dari Labuang Baji mekar lagi melahirkan Jemaat Bunturannu, Jemaat Dadi, Jemaat Tamalate, dan seterusnya ke selatan;
Dari Bontoala kemudian mekar melahirkan Jemaat Ujung Pandang Timur (Tello Batua), Jemaat Rama, Jemaat Biringkanaya, dan seterusnya.
Sedangkan dari Bawakaraeng sendiri mekar melahirkan Jemaat Maccini Raya dan Jemaat Bara-baraya.
Perkembangan Gereja Toraja di Klasis Makassar ini terus berlanjut termasuk hingga ke Pulau Jawa dan Kalimantan.
Klasis Makassar sendiri sebelum mekar telah berjumlah 34 jemaat dan persidangan Klasis ke-46 pada tangal 20 hingga 23 September 2017 telah memekarkan Klasis Makassar menjadi tiga Klasis yaitu Klasis Makassar, Klasis Makassar Tengah, dan Klasis Makassar Timur.
Puji Tuhan, walaupun di masa 2 tahun pasca pandemi Covid-19, jemaat maupun pendeta, pekerja sinode tetap survive dengan mengadakan ibadah live streaming (daring), hingga di tahun 2022 dan awal tahun 2023 jemaat bahkan seluruh masyarakat Indonesia dapat melewati fase ini dengan tertatih dan terlatih.(*/selesai)