Cegah Stunting di Toraja Utara, DP3AP2KB Sulsel Turun Gunung
Yusuf mengatakan, Sulawesi Selatan juga menjadi salah satu daerah rawan stunting.
Penulis: Freedy Samuel Tuerah | Editor: Apriani Landa
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/toraja/foto/bank/originals/04122022_cegah-Stuntung.jpg)
TRIBUNTORAJA.COM, RANTEPAO - Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan KB (DP3AP2KB) Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) melakukan pendampingan terhadap stakeholder kesehatan di Toraja Utara.
Sub Kordinator Pengendalian Penduduk DP3AP2KB Provinsi Sulsel, Yusuf Mangun Karim, mengatakan pendampingan ini dilaksanakan di beberapa daerah demi menekan angka stunting.
"Kali ini pendampingan diadakan di Kabupaten Toraja Utara," ucapnya.
Kegiatan pendampingn ini dibuka Sekertaris Daerah (Sekda) Toraja Utara, Salvius Pasang.
Pertemuan ini juga dihadiri oleh Asisten I Pemerintah dan kesejahteraan Rakyat Kabupaten Toraja Utara, Semuel Sampe Rompon.
Juga anggota TPPS Kabupaten Toraja Utara, perwakilan OPD, camat-camat selaku Ketua TPPS, dan beberapa kepala lembang/kelurahan selaku TPPS lembang atau kelurahan se Kabupaten Toraja Utara.
Yusuf mengatakan, Sulawesi Selatan juga menjadi salah satu daerah rawan stunting.
"Beberapa kabupaten di Sulsel memang rawan, maka perlu pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan bekerja sama untuk menekan bahkan mencegah stunting pada adak," tuturnya.
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan.
Pada tahun 2019 angka stunting di Indonesia sebesar 27,6 persen. Angka tersebut diperkirakan mengalami peningkatan di tahun 2020 seiring dengan melonjaknya angka kemiskinan di Indonesia.
Laporan UNICEF (2021) menyebutkan bahwa diestimasikan saat ini terdapat 31,8 persen anak stunting di Indonesia.
Angka tersebut menempatkan Indonesia meraih predikat very high (sangat tinggi) untuk kasus stunting.
Jika dibandingkan dengan berbagai negara lain di dunia, angka stunting di Indonesia jauh lebih tinggi.
Dibandingkan Korea Selatan (2,2 persen), Jepang (5,5 persen), Malaysia (20,9 persen), China (4,7 persen), Thailand (12,3 persen), Filipina (28,7 persen), dan Kenya (19,4 persen).