Kamis, 16 April 2026

Mengenal Pa'gellu, Kesenian Tari Khas dari Toraja

Tari Pa’gellu atau Ma’gellu biasanya ditampilkan dalam kegiatan Rambu Tuka’ atau kegiatan kesukaan seperti upacara syukuran, upacara peresmian rumah T

Tayang:
Editor: Apriani Landa
zoom-inlihat foto Mengenal Pa'gellu, Kesenian Tari Khas dari Toraja
int
Tarian Pa'gellu 

TRIBUNTORAJA.COMToraja merupakan salah satu daerah di Sulawesi Selatan yang memiliki tradisi dan budaya yang unik..

Toraja merupakan suku memiliki keunikan yang sangat khas di Sulawesi Selatan.

Suku Toraja terkenal dengan adat istiadatnya yang kental dan kesenian tari yang khas, baik dari gerak tari, musik, dan busananya.

Salah satu kesenian gerak tari yang terkenal dari Toraja adalah tari Pa’gellu’. Ini adalah tari tertua yang ada di wilayah Toraja.

Tari Pa’gellu atau Ma’gellu biasanya ditampilkan dalam kegiatan Rambu Tuka’ atau kegiatan kesukaan seperti upacara syukuran, upacara peresmian rumah Tongkonan, penyambutan tamu, pernikahan, dan lainnya.

Pa’gellu berasal dari bahasa Toraja yang berarti menari-nari dengan riang gembira sambil menggerakkan tangan serta badan bergoyang dengan gemulai mengikuti irama gendang.

Dikutip dari kemenparekraf.go.id, konsep tarian ini adalah hiburan dan bersifat rekreatif, biasanya dilakukan untuk menyambut tamu terhormat.

Tarian ini tidak boleh dilakukan pada saat upacara kematian, karena ini merupakan sebuah manifestasi kegembiraan yang diekspresikan dalam bentuk gerak yang lembut dengan alunan musik tradisional.

Tari Pa’gellu digelar di halaman rumah atau di depan tamu kehormatan. Dan boleh dilaksanakan kapan saja baik siang maupun malam hari. Tarian ini dilakukan oleh lima atau tiga orang gadis.

Akan tetapi jika salah satu dari mereka ada keluarga yang meninggal dan belum dimakamkan, maka ia tidak diperbolehkan untuk menari karena dianggap masih berduka.

Pakaian dan aksesoris yang digunakan memakai khas Toraja, dan diiringi gendang yang ditabuh oleh beberapa pria.

Yang unik dari tarian ini karena penarinya bergerak mengikuti irama gendang selalu jinjit dan tangan yang seperti dipatahkan.

Semua Gerakan ini memiliki makna filosofis dan nilai-nilai sosial berkaitan dengan fungsi kesenian dalam kehidupan masyarakat.

Bagi masyarakat Toraja sendiri tari ini merupakan bentuk kebanggaan dan ungkapan suka cita atas segala berkat yang melimpah yang diberikan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Dilansir dari Wikipedia, Tari Pa’gellu atau terkenal dengan sebutan Pa’gellu Pangala ini pertama kali diciptakan oleh Nek Datu Bua’.

Pada saat kembali dari medan peperangan, dirayakan dengan menari penuh sukacita.

Pada waktu itu belum ada alat musik gendang seperti sekarang ini, sehingga mereka menggunakan lesung (alat menumbuk padi) sebagai pengiring tarian.

Nek Datu Bua’ merupakan pioner (perintis) dari Pa’gellu’ Pangala, beliau memiliki keturunan laki-laki yaitu Nek Tumbak yang sangat menguasai Pa’gellu’ Pangala ini.

Hingga kini tidak ada yang tahu pasti tahun diciptakannya tarian ini. Namun, tarian ini telah ditarikan sejak sebelum Belanda masuk ke Toraja.

Adapun penari Pa’gellu sebelum kemerdekaan, yaituNek Lekke, Nek Sampe Alo, dan Nek Tangke Lengi’.

Perempuan dan laki-laki bisa mengikuti tarian ini.

Tidak ada batasan jumlah penarinya, tapi biasanya ditarikan mulai dari 3 orang atau lebih bahkan bisa ditarikan secara massal. Biasanya lagi, tarian ini dibawakan dalam jumlah ganjil seperti 3,5,atau 7 orang gadis.

Sementara lelaki bagian memukul gendang.

Gerakan-gerakan pa’gellu merupakan representasi dari aktivitas keseharian gadis-gadis Toraja.

Ini membentuk suatu jalinan cerita yang terangkai dari satu gerakan ke gerakan lainnya, mulai dari kelahiran, proses menjalani kehidupan, serta bagian akhir dari babak kehidupan manusia.

Termasuk pula di dalamnya tiruan dari gerak-gerak hewan yang dianggap memiliki makna filosofis dan memberi pelajaran berharga bagi manusia.

Terdapat 12 macam gerakan utama dalam tarian ini yang masing-masing gerakan mengandung makna yang demikian dalam.

1. Pa’dena-dena

Gerakan pertama yang menyerupai gerakan burung pipit, yakni berputar dengan tangan terayun dan berjingkrak sambil memasuki tempat menari.

Adapun filosofi gerakan ini adalah hidup dalam kebersamaan.

2. Ma’tabe

Gerakan pembukaan yang dilakukan dengan membungkuk, jongkok, atau berlutut dengan mengatupkan tangan di dada dan menunduk. Sebelum memulainya, biasanya melakukan penghormatan kepada Puang Matua (Sang Pencipta), Deata (Sang Pemelihara), dan para hadirin.

3. Pa’gellu tua

Kedua tangan dikembangkan, berputar, kaki kanan berjingkrak, dan mengayunkan tubuh dari belakang.

Filosofi gerakan ini adalah tidak boleh melupakan jasa orang baik dan sebagai bentuk penghormatan kepada pendahulu.

4. Pa’kaa-kaa bale

Gerakan ini menirukan ikan yang sedang berenang.

5. Pa’langkan-langkan

Gerakannya menyerupai kepakan sayap burung elang yang semakin tertiup angin akan semakin cepat terbang.

6. Pa’tulekken

Tangan ditekan ke pinggang dengan badan berputar dengan kaki bertumpu di atas jari kaki untuk memperhalus gerakan memutar.

7. Pangallo

Jika diperhatikan, gerakan ini menyerupai orang yang sedang menjemur sesuatu, seperti pakaian.

8. Massiri

Gerakan selanjutnya adalah Massiri, yang mana gerakannya seperti menirukan perempuan yang sedang menampi beras.

9. Penggirik tang tarru’

Gerakan berputar yang tetap bertahan. Di sini para penari berputar dan menahan putarannya sehingga putaran akan berhenti dengan sendirinya.

10. Gerakan selanjutnya adalah dimana seorang penari di sini akan naik ke atas gendang dan yang lain memperagakan maupun menirukan orang yang sedang menatap matahari.

11. Pa’lalok Pao

Para penari menirukan daun mangga yang masih muda, yakni menggambarkan sifat lentik, luwes, dan tidak kaku.

12. Pangrampanan atau pelepasan

Ciri khasnya adalah keluar, terbuka, tetapi tidak meninggalkan bumi.

Gerakan terakhir ini terlihat seperti sedang menirukan orang yang sedang melepaskan dan membuang sesuatu.

Yang unik lagi dari tarian ini adalah partisipasi dari tamu atau hadirin yaitu ma’toding, memberikan sejumlah uang kepada para penari dengan disisipkan di sa’pi’ atau hiasan kepala mereka.

Ini kegiatan wajib yang biasanya diawali dari keluarga yang mempunyai hajatan memberi uang disusul oleh para tamu undangan dan kerabat sebagai bentuk sukacita mereka dan support mereka untuk para penari.

Hal tersebut juga menggambarkan bahwa mereka merupakan keluarga besar.

Tari Pa’gellu’ ini mengandung makna filosofis kehidupan sosial masyarakat Toraja. Selain itu tari ini diturunkan secara turun temurun oleh nenek moyang kepada generasi penerusnya.

 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved