DPRD Makassar Dibakar
Kisah Arief Rahman, Bertaruh Nyawa Selamatkan Staf dan Anggota Dewan Saat DPRD Makassar Dibakar
Saat berusaha mencegah seorang yang membawa bom molotov, kakinya dihamtam batu olah perusuh lainnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20250905-Arief-Rahman-Hakim.jpg)
TRIBUNTORAJA.COM, MAKASSAR - Peristiwa pembakaran Gedung DPRD Makassar pada Jumat (29/8/2025) malam menyimpan kisah pilu dan cerita heroic.
Seperti yang dialami Arief Rahman Hakim, staf Wakil Ketua 1 DPRD Kota Makassar, Andi Suharmika.
Saat kejadian, memang sedang terjadi Rapat Paripurna dalam Gedung Dewan yang berada di sudut Jalan AP Pettarani-Jalan Hertaning, Makassar, itu.
Arief pun masih bertahan di Gedung DPRD Makassar untuk menemani Andi Suharmika.
Masih membekas dalam ingatan Arief Rahman, bagaimana kacaunya malam itu.
Rapat Paripurna biasanya diisi dengan saling berpendapat, kini diwarnai tangisan dan kepanikan.
Arief berkisah di malam itu, semula rapat paripurna berjalan seperti biasanya.
Meski di luar Gedung DPRD Makassar ada aksi unjuk rasa, rapat paripurna tetap berjalan normal.
Keadaan rapat berubah ketika massa aksi mulai berdatangan di depan DPRD Makassar dan perlahan massa aksi mulai merangsek masuk gedung.
Massa aksi berhadapan dengan pasukan Satpol PP dan Dinas Perhubungan (Dishub) berjaga di depan. Namun, jumlah massa aksi begitu membludak bahkan sudah mulai chaos.
"Memang hari itu kita laksanakan paripurna, ketika itu tiba-tiba teman Satpol dan Dishub diserang sekelompok orang usia belasan tahun," jelas Arief saat ditemui di gedung DPRD Sulsel, Jl Urip Sumoharjo, Lorong 501, Kelurahan Karampuang, Kecamatan Panakkukang, Jumat (5/9/2025) siang.
Massa mulai anarkis. Mulut mereka tidak lagi menyuarakan aspirasi, tapi tangan mereka mulai melakukan pengrusakan.
Pos Satpol PP mulai dirusak massa. Tak lama kemudian mobil di parkiran jadi sasaran amuk massa.
Mobil-mobil tersebut milik anggota dewan dan juga pejabat pemerintahan yang hadir untuk rapat paripurna malam itu.
Kaca mobil satu per satu dipecahkan. Begitu juga dengan motor yang mulai dibakar.
"Saat menyerang langsung bakar motor, motor dishub dulu dibakar di depan, mereka masuk dalam kantor, baru bakar mobil di belakang pos satpol PP," jelas Arief.
Arief Rahman mendapat kabar massa mulai anarkis. Ia pun berpikir untuk segera memindahkan kendaraan mobil ke area lebih aman.
Usai mengamankan mobil, Arief masuk ke ruang Andi Suharmika.
"Setelah saya pindahkan mobil ke tempat aman di belakang mushallah, saya naik ke ruangan Pak Suharmika dan membantu mengamankan beberapa barang pribadi," ujar Arief.
Arief mengamankan sejumlah berkas penting. Setelah itu, Arief naik ke ruang rapat paripurna.
"Saya naik ke ruang rapat paripurna untuk informasikan dengan Pak Walikota dan pimpinan DPRD, terjadi penyerangan di bawah," lanjut Arief.
Setelah bertahan di ruang rapat paripurna, aksi massa kian anarkis di depan Kantor DPRD Makassar.
Massa membakar seluruh mobil milik anggota dewan maupun staf DPRD Makassar.
Ketika massa kian anarkis, pembakaran mulai menyasar gedung DPRD Makassar.
Saat itu, Arief mulai menginisiasi penyelamatan baik anggota dewan maupun pegawai DPRD Makassar.
Satu per satu koleganya diselamatkan keluar gedung DPRD Makassar.
Di momen itu, Arief mendapati seseorang yang membawa bom Molotov.
"Saya menyelamatkan teman tertinggal, setelah menyelamatkan saya lihat seseorang bawa bom molotov mau bakar mobil Pak Ismail," kata Arief.
Dirinya sempat ikut mencoba melerai massa yang membawa bom Molotov.
Bom molotov adalah sejenis bom rakitan yang dibuat dengan menuangkan bensin atau bahan yang mudah terbakar lainnya ke dalam botol dan diberikan sumbu berupa tali atau kain.
Namun naas, dirinya diserang balik oleh sekelompok massa.
Kakinya menjadi sasaran. Batu menghantam kaki kiri Arief.
"Saya mau coba lerai, tapi saya berkelahi dengan pelaku, temannya datang bawa batu dan hantam kaki kiriku. Jadi saya liat mereka banyak saya lari ke mushallah dan lompat ke belakang gedung," jelasnya.
Arief berlari ke arah Mushallah lalu lompat menuju perumahan warga di belakang DPRD Makassar.
Rasa sakit di kaki kirinya tak lagi terasa saat kepanikannya memuncak. Massa aksi kian banyak masuk gedung dan mulai melakukan pembakaran.
"Setelah itu saya dibawa ke rumah sakit, minta tolong warga sekitar," ujarnya.
Arief mengaku tak bisa melihat jelas wajah dari para demonstran.
Sebab malam itu, seluruh lampu dimatikan. Kondisinya gelap gulita. Hanya kobaran api yang membuka cahaya di malam tragis itu.
"Kondisi saat itu gelap dimatikan lampu. Tertatih-tatih jalan, inikan awalnya (kaki) dihantam batu ditambah lagi lompat di masjid ke belakang," jelasnya.
Arief mengaku sempat bertemu dengan korban lainnya di malam itu, Basri Akbar atau Abay.
"Kak Abay itu kita saling bantu mengevakuasi orang, Abay masih sempat dilihat (dalam gedung)," ceritanya.
Kini, Arief baru saja selesai menjalani perawatan intensif. Tulang kakinya sempat retak.
Arief harus memakai tongkat dalam beraktifitas.
Pasalnya tulang kaki kirinya retak, usai dihantam batu dan lompat dari tembok mushallah DPRD Makassar ke arah perumahan.
"Semoga cepat didapat pelaku utamanya, kita ikut berbelasungkawa dengan gugurnya teman kita," tutupnya.(*)
Artikel ini telah tayang di Tribun-Timur.com dengan judul Bertaruh Nyawa Selamatkan Anggota DPRD Makassar Saat Kebakaran, Kaki Arief Rahman Sampai Retak
| Kisah Pilu Abay Tewas Saat Gedung DPRD Makassar Dibakar: Sesak Ya Allah |
|
|---|
| Gedung DPRD Kota Makassar Terbakar: 4 Tewas, Satu Kritis, 3 Luka, 67 Mobil Tinggal Bangkai |
|
|---|
| Daftar Nama Anggota DPRD Kota Makassar Periode 2024–2029, Kantornya Hangus Terbakar |
|
|---|
| 3 Orang Tewas Akibat Gedung DPRD Makassar Dibakar Massa, Ini Identitasnya Termasuk Fotografer Humas |
|
|---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.