Rabu, 6 Mei 2026

Studi MIT: Pemakaian ChatGPT Picu Penurunan Aktivitas Otak hingga 55 Persen

Penelitian MIT mengungkap penggunaan ChatGPT berpotensi membuat otak manusia kurang aktif hingga 55 persen. Dampaknya terasa pada kemampuan...

Tayang:
Penulis: Redaksi | Editor: Donny Yosua
zoom-inlihat foto Studi MIT: Pemakaian ChatGPT Picu Penurunan Aktivitas Otak hingga 55 Persen
Gridpop.id
PENURUNAN AKTIVITAS OTAK - Ilustrasi ChatGPT. Penelitian MIT mengungkap penggunaan ChatGPT berpotensi membuat otak manusia kurang aktif hingga 55 persen. Dampaknya terasa pada kemampuan berpikir kritis dan daya ingat. 

TRIBUNTORAJA.COM – Teknologi kecerdasan buatan (AI) seperti ChatGPT ternyata tidak hanya membawa manfaat, tetapi juga menyimpan potensi risiko terhadap kinerja otak manusia.

Riset terbaru dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) membeberkan bahwa penggunaan ChatGPT secara terus-menerus bisa membuat aktivitas otak menurun drastis.

Penelitian yang dipimpin Dr. Nataliya Kosmyna dari MIT Media Lab ini menunjukkan bahwa individu yang sering mengandalkan ChatGPT dalam menulis esai mengalami penurunan aktivitas otak hingga 55 persen, dibandingkan mereka yang menulis tanpa bantuan teknologi apa pun.

 

 

Tiga Metode Pengujian Esai

Riset bertajuk "Your Brain on ChatGPT: Accumulation of Cognitive Debt when Using AI Assistant for Essay Writing Task" tersebut melibatkan 54 mahasiswa di wilayah Boston, Amerika Serikat. Para peserta dibagi dalam tiga kelompok:

  1. Kelompok Brain-only, yang menulis esai sepenuhnya tanpa bantuan alat digital apa pun.
  2. Kelompok Search Engine, yang diperbolehkan menggunakan mesin pencari online sebagai referensi.
  3. Kelompok ChatGPT, yang diberi kebebasan penuh untuk menulis esai dengan bantuan chatbot GPT-4o.

Seluruh peserta menulis esai selama 20 menit sambil dipasangi perangkat elektroensefalogram (EEG) di kepala.

Alat EEG merekam aktivitas gelombang otak, termasuk tingkat konsentrasi dan beban kerja kognitif. Pengujian ini dilakukan empat kali dalam beberapa bulan.

Selain rekaman EEG, para peneliti juga menganalisis kualitas esai secara linguistik dan melalui penilaian langsung baik oleh guru manusia maupun sistem AI.

Setelah selesai, mahasiswa pun diwawancarai untuk mendalami pengalaman mereka.

 

Baca juga: Elon Musk Hadirkan Grok-3, Ini Fitur yang Bakal Jadi Pesaing ChatGPT dan DeepSeek

 

Aktivitas Otak Turun Drastis

Hasil penelitian mengungkap fakta mengejutkan.

Mahasiswa yang rutin memakai ChatGPT mengalami penurunan aktivitas otak hingga 55 persen dibanding kelompok Brain-only.

Menurut tim MIT, penggunaan ChatGPT menyebabkan otak pengguna menjadi lebih pasif.

Proses berpikir mandiri menurun drastis, karena AI mengambil alih hampir seluruh proses penulisan.

Sementara itu, kelompok yang memakai mesin pencari juga mengalami penurunan aktivitas otak, tetapi lebih ringan, berkisar 34 persen hingga 48 persen.

“Kelompok Brain-only mengandalkan jaringan saraf otak yang lebih luas dan terdistribusi. Sementara kelompok Search Engine memanfaatkan kombinasi kontrol visual dan regulasi kognitif, sedangkan kelompok yang memakai LLM seperti ChatGPT lebih banyak mengandalkan integrasi prosedural dari saran yang diberikan AI,” tulis tim MIT, dikutip dari The Register.

Para peneliti menilai temuan ini memiliki implikasi besar, terutama di sektor pendidikan, karena bisa memengaruhi cara pelajar memahami dan menyerap materi.

 

Baca juga: Ingin Saingi ChatGPT, Elon Musk Bikin Perusahaan AI Baru

 

Daya Ingat Juga Melemah

Tak hanya berdampak pada aktivitas otak, kebiasaan mengandalkan ChatGPT juga memengaruhi daya ingat.

Penelitian MIT menemukan bahwa mahasiswa yang terbiasa memakai AI kesulitan mengingat isi esai yang mereka tulis sendiri.

Hal ini terungkap ketika para peneliti menukar metode penulisan antar kelompok pada sesi akhir.

Kelompok yang semula hanya mengandalkan kemampuan otak (Brain-only) ternyata mampu beradaptasi dengan baik ketika diperbolehkan menggunakan ChatGPT.

Sebaliknya, mereka yang awalnya terbiasa memakai AI justru mengalami kesulitan merangkai kalimat saat harus menulis tanpa bantuan apa pun.

“Pada Sesi 4, penghapusan dukungan AI secara drastis mengganggu peserta dari kelompok LLM,” tulis laporan MIT.

Kelompok Brain-only justru menunjukkan peningkatan signifikan pada konektivitas otak di seluruh pita frekuensi EEG saat diberi akses menggunakan AI untuk topik yang sudah familiar.

Peneliti mengingatkan bahwa dampak negatif penggunaan AI seperti ChatGPT tidak hanya soal penurunan daya pikir kritis, tetapi juga berpotensi mengganggu memori otak.

“Studi ini menunjukkan potensi penurunan keterampilan belajar akibat penggunaan AI. Peserta kelompok LLM mencatat hasil yang lebih rendah dibanding kelompok Brain-only di seluruh tingkatan penilaian,” demikian kesimpulan tim MIT.

Meski riset ini masih dalam tahap awal dan belum melewati proses peer review, para peneliti MIT menegaskan pentingnya keseimbangan penggunaan teknologi agar manusia tetap mempertahankan kemampuan berpikir mandiri.

(*)

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved