Selasa, 19 Mei 2026

Obrolan PM Thailand dan Eks PM Kamboja Bocor, Pemerintahan Negeri Gajah Putih Terancam Runtuh

Pemerintahan PM Thailand Paetongtarn Shinawatra terancam runtuh setelah percakapan pribadinya dengan mantan PM Kamboja Hun Sen bocor ke publik dan...

Tayang:
Penulis: Redaksi | Editor: Donny Yosua
zoom-inlihat foto Obrolan PM Thailand dan Eks PM Kamboja Bocor, Pemerintahan Negeri Gajah Putih Terancam Runtuh
AP/SAKCHAI LALIT via DW INDONESIA
PERCAKAPAN BOCOR - Foto arsip: Perdana Menteri (PM) Thailand, Paetongtarn Shinawatra. Pemerintahan PM Thailand Paetongtarn Shinawatra terancam runtuh setelah percakapan pribadinya dengan mantan PM Kamboja Hun Sen bocor ke publik dan memicu kemarahan nasional serta krisis diplomatik. 

TRIBUNTORAJA.COM, BANGKOK – Pemerintahan Perdana Menteri Thailand Paetongtarn Shinawatra tengah menghadapi krisis serius usai percakapan pribadinya dengan mantan PM Kamboja Hun Sen bocor ke publik.

Kebocoran itu memicu kemarahan nasional dan membuat koalisi utama Partai Pheu Thai mundur, memperlemah stabilitas kekuasaan Paetongtarn.

Percakapan tersebut, yang berdurasi 17 menit, awalnya diklaim sebagai pembicaraan informal dan pribadi, tetapi bocor ke publik setelah Hun Sen sendiri membagikannya ke 80 politisi.

Salah satu dari mereka diduga menyebarkannya lebih lanjut.

 

 

Dalam rekaman itu, Paetongtarn menyebut Hun Sen sebagai "paman", dan menyatakan akan menjaga kepentingan pribadi Hun Sen.

Ia bahkan terdengar mengkritik komandan militer Thailand yang menangani ketegangan di perbatasan, menyebutnya hanya ingin “terlihat keren” dan mengatakan hal-hal “tak berguna”.

Pernyataan ini membuat militer Thailand yang memiliki pengaruh politik besar merasa dilecehkan, dan menyulut gelombang kritik dari publik serta oposisi politik yang menuntut Paetongtarn mundur dari jabatannya.

 

Baca juga: Putin: Rusia Siap Tambah Pasokan Migas ke Indonesia, Buka Kerja Sama Nuklir dan Teknologi Canggih

 

Hubungan akrab antara keluarga Shinawatra dan Hun Sen sudah lama terjalin.

Thaksin Shinawatra, ayah Paetongtarn dan mantan PM Thailand yang digulingkan, dikenal sangat dekat dengan Hun Sen hingga saling menyebut sebagai "saudara angkat".

Namun, kedekatan ini kini justru menjadi bumerang politik.

Kritikus menilai Paetongtarn telah menyalahgunakan kedekatan pribadi untuk kepentingan politik luar negeri dan keamanan nasional.

 

Baca juga: Ambulans Dirusak Massa dalam Demo Sopir Truk di Karanganyar, Diduga Gara-gara Bunyi Sirine

 

Krisis Diplomatik dan Respons Thailand

Kementerian Luar Negeri Thailand secara resmi mengajukan protes diplomatik kepada Kedutaan Besar Kamboja, menyatakan kekecewaan mendalam atas bocornya komunikasi tersebut.

"Kepercayaan dan rasa hormat antara kedua pemimpin sangat fundamental bagi hubungan bertetangga dan perilaku baik antarnegara," tulis Kemenlu dalam surat resminya, dikutip dari Kompas.com.

Kebocoran rekaman ini memperburuk ketegangan perbatasan yang sudah memanas sejak seorang tentara Kamboja tewas dalam bentrokan pada Mei lalu.

Kamboja menanggapi dengan melarang impor dari Thailand, termasuk buah, sayur, listrik, hingga layanan internet dan hiburan seperti drama TV.

Pembatasan lintas batas pun diterapkan kedua negara, dan hubungan bilateral mencapai titik terendah dalam lebih dari satu dekade terakhir.

Hun Sen, yang kini menjabat sebagai ketua dewan penasihat kerajaan, mengatakan dirinya tidak bermaksud mempermalukan Paetongtarn, tetapi merasa perlu membagikan isi percakapan karena menyangkut urusan strategis.

 

Baca juga: Pulau Panjang Sumbawa NTB Dijual Online, Bupati Tak Tahu: Itu Kawasan Suaka Alam

 

Posisi Paetongtarn Terancam

Paetongtarn baru menjabat sebagai PM Thailand sejak Agustus 2024, menggantikan Srettha Thavisin yang dicopot Mahkamah Konstitusi karena pelanggaran dalam pengangkatan kabinet.

Kini, ia menghadapi desakan kuat dari oposisi untuk mundur, di tengah runtuhnya dukungan koalisi.

Paetongtarn membela diri dengan mengatakan bahwa percakapan itu hanyalah strategi negosiasi, tetapi berjanji tidak akan lagi melakukan pembicaraan tertutup dengan pimpinan negara tetangga.

“Itu bagian dari teknik diplomasi. Tapi ke depan, tidak akan saya ulangi,” ujarnya.

Jika Paetongtarn kehilangan lebih banyak dukungan politik, kemungkinan pembubaran parlemen dan pemilu ulang bisa terjadi, menandai babak baru dalam gejolak politik Thailand.

(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved