Ibadah Haji 2025
Suhu Ekstrem di Arab Saudi Capai 50 Derajat Celcius, Waspada Risiko Heat Stroke
Kondisi ini menyebabkan pelebaran pembuluh darah secara mendadak. Hal ini berakibat pada penurunan tekanan darah yang signifikan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/toraja/foto/bank/originals/27062023_suhu_ekstrim.jpg)
TRIBUNTORAJA.COM, MEKKAH - Jelang wukuf di Arafah, suhu ekstrem melanda Arab Saudi. Suhu di Arab Saudi diperkirakan bisa mencapai 50 hingga 51 derajat Celcius.
Untuk diketahui, wukuf di Arafah akan dilaksanakan pada 9 Dzulhijjah 1446 Hijriah atau bertepatan dengan 5 Juni 2025.
Suhu ekstrem tersebut menjadi perhatian serius dalam penyelenggaraan ibadah haji tahun ini.
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Prof Dr Taruna Ikrar, yang juga menjadi bagian dari rombongan Amirul Hajj, mengingatkan seluruh jemaah untuk mewaspadai risiko heat stroke.
"Tubuh manusia pada dasarnya hanya mampu mentoleransi suhu hingga 40 derajat. Kelebihan 10 derajat itu sudah masuk kategori ekstrem, dan sangat berisiko menimbulkan heat stroke," ujar Taruna melalui keterangan tertulis, Sabtu (31/5/2025).
Menurut Taruna Ikrar, Heat stroke adalah kondisi ketika suhu tubuh melonjak akibat paparan panas ekstrem. Kondisi ini menyebabkan pelebaran pembuluh darah secara mendadak. Hal ini berakibat pada penurunan tekanan darah yang signifikan.
Dikutip dari primayahospital.com, Heat stroke adalah kondisi kesehatan yang sangat serius yang berkaitan dengan kondisi suhu tubuh. Kondisi ini terjadi pada cuaca yang sangat panas sementara tubuh tidak mampu mengontrol temperatur secara normal.
Akibatnya, suhu tubuh meningkat drastis karena tidak mampu menurunkan suhu tubuh hingga ke titik normal. Dalam kondisi ini, mekanisme berkeringat dalam tubuh juga mengalami masalah yang membuat suhu tubuh tidak dapat turun.
Suhu tubuh penderita heat stroke dapat mencapai 40 derajat Celcius dengan puncaknya berada di 10 – 15 menit. Bila tidak segera mendapatkan perawatan, maka dapat mengakibatkan cacat permanen bahkan kematian.
"Jika tekanan darah tiba-tiba drop, orang bisa pingsan. Bagi yang punya penyakit bawaan seperti jantung, diabetes, atau hipertensi, ini bisa berujung fatal,” katanya.
Sebagai bagian dari rombongan Amirul Hajj, Taruna Ikrar menegaskan pentingnya edukasi dan kesiapsiagaan petugas haji, terutama dalam menghadapi cuaca ekstrem yang tidak biasa bagi mayoritas jemaah Indonesia.
“Kita tidak bisa main-main dengan panas ekstrem. Edukasi harus terus dilakukan, karena kesehatan jemaah adalah syarat mutlak untuk kelancaran ibadah mereka,” katanya.
Ia juga mengimbau agar setiap jemaah tidak segan melapor jika mulai merasa tidak nyaman secara fisik, serta disiplin menjaga kondisi tubuh di tengah cuaca ekstrem yang mengancam.
Jangan Keluar Tenda
Jamaah haji diimbau tidak keluar dari tenda selama prosesi wukuf berlangsung. Imbauan ini disampaikan Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Hilman Latief, usai meninjau kesiapan fasilitas layanan di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) pada Senin, 26 Mei 2025.
Imbauan ini disampaikan mengingat cuaca yang ekstrem di Arab Saudi, bisa mencapai 50 derajat Celcius.
"Kementerian Haji dan Umrah Kerajaan Arab Saudi menginformasikan bahwa suhu udara saat puncak haji diprediksi masih sangat tinggi, bahkan bisa lebih panas dibanding hari ini," kata Hilman.
"Karena itu, jamaah diimbau untuk tidak keluar tenda tanpa keperluan mendesak guna menghindari risiko heatstroke atau serangan panas yang bisa membahayakan jiwa," tambahnya.
Selama wukuf, jemaah telah difasilitasi dengan kasur, bantal, selimut, serta pendingin ruangan atau AC.
Fasilitas ini disediakan untuk menjaga kenyamanan jemaah di tengah suhu ekstrem.
Hilman menyarankan agar jemaah tetap berada di dalam tenda sambil memperbanyak doa, zikir, atau membaca Al-Qur’an.
Menjelang puncak pelaksanaan ibadah di Armuzna, jemaah juga diminta mempersiapkan diri secara fisik dan mental.
Imbauan ini terutama ditujukan kepada jemaah lanjut usia dan penyandang disabilitas.
Mereka disarankan untuk beribadah di hotel atau melakukan aktivitas dengan pergerakan minimal, karena pahalanya tetap besar meski aktivitasnya terbatas. Hal ini bertujuan untuk mencegah kelelahan yang berlebihan.
Pemerintah juga akan menyampaikan jadwal pelaksanaan lempar jumrah secara detail agar jemaah merasa aman dan nyaman.
“Tentu saja akan ada berbagai modifikasi yang dilakukan demi keamanan dan keselamatan jemaah,” tambah Hilman.
Sebagai informasi, wukuf di Arafah akan dilaksanakan pada 9 Dzulhijjah 1446 Hijriah atau bertepatan dengan 5 Juni 2025.
Setelah wukuf, jamaah akan melanjutkan prosesi ibadah dengan mabit di Muzdalifah, mabit di Mina, dan melempar jumrah.
Sumber: Tribunnews dan Tribun-Timur.com
| 5 Poin Evaluasi Haji Indonesia Tahun 2025, Kemenag: Sudah Dibahas Sebelum Puncak Haji |
|
|---|
| Jadwal Kepulangan Jamaah Haji Indonesia Hari Ini 18 Juni 2025, Termasuk Debarkasi Makassar |
|
|---|
| Banyak Jamaah Haji Indonesia Terpisah dari Rombongan di Mina, Petugas Sigap Membantu |
|
|---|
| Mengenal Haji Furoda yang Biayanya Bisa Mencapai Hampir 1 Miliar, Nasib 4 Artis Termasuk Ruben Onsu |
|
|---|
| Tim Kesehatan Siaga 90 Ton Obat dan 28 Dokter Spesialis di Kota Mekkah, Didominasi Oralit |
|
|---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.