Sabtu, 23 Mei 2026

Vale dan Danau Matano, Sinergi Dalam Simfoni

Sebuah danau purba yang terbentuk secara tektonik, dan terletak di ujung Sulawesi Selatan, tepatnya di Kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu Timur.

Tayang:
Penulis: Adenin | Editor: Apriani Landa
zoom-inlihat foto Vale dan Danau Matano, Sinergi Dalam Simfoni
net
Pesona Danau Matano di Luwu Timur, Sulawesi Selatan 

TRIBUNTORAJA.COM, Sorowako – Sabtu (30/12/2023), pagi yang cerah, rona mentari mengintip dari balik Pegunungan Verbeek.

Embun pagi melekat di dedaunan, dan bukit-bukit masih berselimut kabut.

Tatkala matahari telah naik setinggi tombak, tercerminlah birunya langit di atas permukaan danau.

Permukaan air yang biru, seperti kartu undangan, untuk segera menyelam.

Pepohonan yang berbaris hijau, layaknya barisan para tentara, mengawal kecantikan sang aquamarine dari Bumi Batara Guru.

Dialah Danau Matano.

Sebagian orang masih asing dengan namanya.

Sebuah danau purba yang terbentuk secara tektonik, dan terletak di ujung Sulawesi Selatan, tepatnya di Kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu Timur.

Membentang seluas 164 km2, dengan panjang 28 km, dan lebar 8 km, dengan titik koordinat 2° 28′ 17.04″ S, 121° 19′ 47.28″ E.

Berpredikat danau terdalam se-Asia Tenggara, serta urutan kesebelas danau terdalam di dunia, dengan kedalaman 590 meter.

Tak hanya sebagai danau terdalam, Matano juga menyimpan situs arkeologi dan keanekaragaman hayati.

Danau Matano menjadi saksi bisu peradaban besi yang berkembang sejak abad ke-6 di Kecamatan Nuha.

Beberapa gua ditemukan, berisi peninggalan bersejarah seperti parang, tombak, mangkung dan piring yang sudah berumur ratusan tahun.

Ikan Buttini (Glosogobius matanensis) dan Opudi (Thelmaterina) menjadi fauna endemik, bahkan ikan Opudi diabadikan sebagai nama kapal fery milik ASDP yang berlalu lalang di danau Matano.

Tak berhenti sampai disitu, air danau matano juga menjadi sumber air yang digunakan masyarakat sekitar.

Baik sebagai air konsumsi rumah tangga, maupun sumber irigasi petani sekitar.

Namun, dibalik itu semua, tersimpan cerita bagaimana air dari danau purba itu masih terjaga kualitasnya seiring perkembangan zaman.

Pasalnya, lokasi danau berbatasan langsung dengan blok pertambangan nikel milik PT Vale Indonesia Tbk (PTVI).

Blok pertambangan biji nikel, mulai dijamah di akhir era 70-an, saat masih bernama PT International Nickel Community (INCO).

Hingga 55 tahun perjalanan dari vale, tak sedikit isu-isu mengenai pengelolaan lingkungan yang dibenturkan kepada masyarakat.

Namun vale dengan gagah membuktikan kualitasnya, sebagai perusahaan tambang yang peduli terhadap dampak lingkungan.

Tercermin dari ratusan penghargaan dan sertifikat baik ditaraf nasional maupun internasional.

Pada tanggal 20 Desember 2023, vale kembali meraih Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup (PROPER) peringkat Hijau dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Penghargaan PROPER Hijau diraihkeempat kalinya oleh vale dalam kurun waktu 3 tahun berturut-turut.

Dalam kegiatan penambangannya, vale menerapkan metode penambangan terbuka, atau open cast mining.

Pertama-tama dilakukan proses land clearing, atau pembersihan lahan dari tumbuhan.
Kemudian, lapisan tanah penutup dikelupas melalui proses stripping dengan kedalaman 5 sampai 10 meter, tergantung kondisi tanah.

Lapisan tanah tersebut kemudian dibawa ke penampungan untuk menambah lahan pasca tambang.

Ore nikel yang sudah ditambang di site, selanjutnya akan diproses di bagian process plant.

Ore nikel akan dimasukkan ke mesin penggiling untuk dicampur dengan air.

Selanjutnya, ore akan dikirim menggunakan belt conveyor untuk dikeringkan di kiln.

Setelah kering, nikel ore dimasukkan ke dalam furnance untuk dilebur, lalu diolah menjadi nikel matte.

Pada tahap ini, air yang tersisa akan dihilangkan serta dilakukan pemisahan slag (terak besi).

Leburan nikel berupa slag akan dibuang ke slag dump, sedangkan leburan nikel murni diubah menjadi bubuk nikel atau nikel matte.

Langkah selanjutnya yaitu converter, yakni peningkatan kadar matte hingga 78 persen.

Nikel tersebut kemudian disemprot dengan air bertekanan tinggi hingga berbentuk butiran dan disaring sebelum dikemas.

Terakhir, nikel matte siap untuk dikirim melalui kapal pengangkut.

Dalam kegiatan operasional, air danau matano lah yang digunakan untuk menggerakkan 3 PLTA yang telah dibangun vale.

PLTA Larona, PLTA Balambano, dan PLTA Karebbe merupakan mahakarya yang bersumber dari air danau matano.

Namun untuk tetap menjaga kualitas kejernihan air, vale telah bersiap dengan menyediakan lebih dari 100 kolam pengendapan (sediment pond) yang melingkari matano.

Kolam pengendapan berfungsi memurnikan limbah air tambang nikel, sebelum kembali wadah induknya (matano).

Salah satu keunggulan vale dalam pemurnian air limbah, yaitu dengan hadirnya Lamella Gravity Setler (LGS).

LGS yang difungsikan sejak 2014 itu, bersanding dengan Pakalangkai Wastewater Treatment yang setahun sebelumnya (2013) telah berfungsi.

Bahkan LGS uang diterapkan vale, merupakan pertama dan satu-satunya yang diterapkan perusahaan tambang di Indonesia.

Kolaborasi keduanya membuat hasil pengukuran kadar Total Suspended Solid (TSS) dan Cr6+ di Danau Matano, selalu berada jauh di bawah baku mutu yang ditetapkan pemerintah.

Yang mana telah memenuhi Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No.9 tahun 2006 tentang Baku Mutu Air Limbah bagi Usaha dan/atau Kegiatan Pertambangan Bijih Nikel.

Divisi Floor Management Development System bertanggung jawab mengelola di fasilitas ini.

Tim dari divisi ini selalu sedia setiap 24 jam dalam 7 hari untuk memantau fasilitas LGS.

Bahkan tiap 2 jam sekali, dilakukan pengambilan sampel untul mengecek kadar baku mutunya.

Hasil dari jerih payah divisi inilah yang membuahkan hasil terjaganya kualitas air danau matano.

Danau yang indah, yang seakan memanggil untuk kembali ketika jauh darinya.

Dan merupakan bukti nyata bahwa pertambangan dan lingkungan dapat bersinergi dalam satu simfoni.

Tak ada masa depan tanpa pertambangan, dan taka da pertambangan tanpa masa depan. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved