Minggu, 17 Mei 2026

Papeda dan Kapurung Jadi Google Doodle Hari Ini, Warisan Budaya dari Timur Indonesia

Google menampilkan logo dengan sajian Papeda untuk merayakan peringatan 8 tahun Papeda ditetapkan menjadi warisan budaya tak benda Indonesia.

Tayang:
Penulis: Redaksi | Editor: Apriani Landa
zoom-inlihat foto Papeda dan Kapurung Jadi Google Doodle Hari Ini, Warisan Budaya dari Timur Indonesia
tangkapan layar
Sajian Papeda atau Kapurung yang jadi Google Doodle hari ini, Jumat (20/10/2023). 

TRIBUNTORAJA.COM - Mesin pencari Google menampilkan menu khas dari timur Indonesia, Papeda, di halaman depan menjadi Doodle hari ini, 20 Oktober 2023.

Papeda merupakan makanan khas masyarakat Indonesia timur dari bahan utama sagu. Di Sulawesi Selatan, menu khas ini disebut Kapurung.

Papeda dan kapurung disajikan dengan ikan rebus kuah kuning serta sayuran. Rasanya segar dan menyehatkan.

Google menampilkan logo dengan sajian Papeda untuk merayakan peringatan 8 tahun Papeda ditetapkan menjadi warisan budaya tak benda Indonesia.

Penetapan itu dilakukan Unesco (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) pada 20 Oktober 2015.

Berdasarkan laman kwriu.kemdikbud, papeda terdaftar sebagai warisan budaya tak benda asal Papua Barat.

Bubur sagu ini masuk kategori kemahiran dan kerajinan tradisional.

Papeda tercatat sebagai satu di antara makanan pokok di Indonesia timur dan populer di seluruh dunia.

Jutaan pohon sagu tumbuh di berbagai pulau di Indonesia.

Setiap tahun, warga lokal memanen sagu untuk diolah sendiri, termasuk menjadi papeda, atau diekspor.

Satu pohon sagu bisa menghasilkan 150 kg hingga 300 kg pati sagu.

Tanaman ini menghasilkan gizi yang seimbang, termasuk protein, karbohidrat, kalsium, dan zat besi.

Menurut indonesia.go.id, selain kaya serat, papeda juga rendah kolestrol dan bernutrisi.

Papeda memiliki nutria esensial seperti protein, karbohidrat, kalsium, fosfor, zat besi, dan lain-lain.

Bahkan, rutin mengkonsumsi papeda dapat meningkatkan kekebalan dan daya tahan tubuh, serta mengurangi resiko terjadinya kanker usus, hingga membersihkan paru-paru.

Banyak masyarakat di Indonesia mempertahankan pohon sagu selama beradab-abad.

Papeda menjadi bagian dari upacara adat dan perayaan di berbagai masyarakat di Indonesia timur.

Mengutip Kompas.com, papeda banyak ditemui Papua, Maluku, hingga beberapa daerah di Sulawesi.

Masyarakat di Papua dan Maluku kerap menghidangkan papeda dalam upacara-upacara adat, satu di antaranya dalam upacara Watani Kame.

Upacara itu digelar sebagai tanda berakhirnya siklus kematian seseorang.

Di Inanwatan (Sorong Selatan), papeda wajib disuguhkan ketika upacara kelahiran anak pertama.

Di Pulau Seram, Maluku, papeda dikenal dengan sebutan sonar monne.

Bagi masyarakat adat Papua, sagu sangat dihormati.

Karena itu, kerap ada upacara khusus saat memanen sagu sebagai rasa syukur atas hasil panen sagu yang melimpah.

"Sagu adalah inti dari berbagai ritual masyarakat adat di pesisir dan dataran rendah Papua," ujar antropolog JR Mansoben.

Alternatif Gandum

Sagu bisa menjadi alternatif gandum untuk mitigasi perubahan iklim dan krisis pangan dunia.

Saat mengunjungi Papua pada Desember 2022, Direktur Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia untuk Timor Leste dan Indonesia, Rajendra Aryal, menyebut perubahan iklim dan perang memengaruhi stok dan harga gandum di dunia.

Gandum adalah bahan baku untuk membuat mi instan.

Perubahan iklim dan perang memengaruhi stok dan harga gandum di dunia.

Indonesia adalah negara pengonsumsi gandum peringkat ke-14 dunia pada 2021/2022, 10,4 juta ton.

Ekspor gandum dari Rusia dan Ukraina yang biasanya memasok hingga 40 persen kebutuhan dunia tersendat akibat perang.

"Kita adalah importir besar gandum sehingga perlu mencari alternatif karena Indonesia memiliki banyak sumber daya di antaranya adalah sagu," ujar Rajendra Aryal di Kampung Yoboi, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Senin (5/12/2022).

Ia berkunjung ke Kampung Yoboi untuk menjajaki kerja sama dengan Kementerian ATR/BPN, dan Kementerian Pertanian untuk mempromosikan pangan yang beragam.

The Food and Agriculture Organization of The United Nations (FAO) juga mempelajari tanaman sagu mulai dari masa penanaman, proses panen, hingga pemasarannnya.

FAO berencana untuk bekerja sama dengan masyarakat adat agar memiliki kekuatan dalam perkembangan pertanian, termasuk sagu di Papua.

(Sumber: Kompas.com/Tribun papuabarat/Tribun-Papua.com)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved