Jumat, 10 April 2026

Festival Tunas Bahasa Ibu

Ratusan Pelajar Ikut Lomba Stand Up Comedy Bahasa Toraja

FTBI 2023 akan berlangsung selama empat hari, 18-21 Oktober dan diikuti ratusan pelajar tingkat SD dan SMP asal 19 kecamatan di Kabupaten Tana Toraja.

Tayang:
Penulis: Muhammad Rifki | Editor: Imam Wahyudi
zoom-inlihat foto Ratusan Pelajar Ikut Lomba Stand Up Comedy Bahasa Toraja
rifki/tribun toraja
Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) digelar oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tana Toraja di Pasar Seni Makale, Rabu (18/10/2023). 

TRIBUNTORAJA.COM, MAKALE - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tana Toraja menggelar Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tahun 2023 di Pasar Seni Makale, Rabu (18/10/2023).

FTBI 2023 akan berlangsung selama empat hari, 18-21 Oktober dan diikuti ratusan pelajar tingkat SD dan SMP asal 19 kecamatan di Kabupaten Tana Toraja.

Para pelajar ini akan berlomba dalam empat divisi lomba yang terdiri dari pidato bahasa daerah, dongeng bahasa daerah, stand up comedy bahasa daerah, dan cerpen bahasa daerah dengan kategori putra dan putri.

FTBI merupakan kegiatan puncak dari Revitalisasi Bahasa Daerah yang menjadi program Merdeka Belajar episode ke-17.

“Kegiatan ini namanya Festival Tunas Bahasa Ibu. Ini adalah salah satu kebijakan yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) Indonesia pada episode yang ke-17,” ujar Ketua Panitia sekaligus Kepala UPT SDN 6 Sangalla Selatan, Agustinus Mulu kepada Tribun Toraja di lokasi.

“Bahwa setiap satuan pendidikan di Indonesia itu diupayakan untuk mengembangkan dan menggali kembali bahasa-bahasa daerah, karena rupanya di Indonesia ini ada 700-an lebih bahasa daerah di mana 25 di antaranya sudah hilang dan punah,” imbuhnya.

Menurut Agustinus, FTBI berusaha memantik generasi muda untuk melestarikan budaya mereka, terkhusus budaya di Tana Toraja.

“Sekaitan dengan itu, kita di Tana Toraja ini adalah satu suku, di dalamnya ada beberapa identitas. Salah satunya bukan hanya budayanya dalam hal ini upacara, tetapi juga dari sudut bahasa, Tana Toraja punya bahasa sendiri, punya bahasa Toraja.”

“Nah mengapa ini dilakukan, kita mencoba untuk meminimalisir generasi kita yang sudah mulai tidak peduli dengan bahasanya sendiri. Mereka lebih cenderung ke bahasa asing, Bahasa Indonesia, bahasanya sendiri tidak paham. Nah ini kekhawatiran kita kalau tidak digali sejak dunia pendidikan, bisa punah,” jelas Agustinus.

Festival ini juga menjadi media apresiasi Kemendikbudristek Indonesia kepada para peserta program yang dilakukan secara berjenjang, mulai dari sekolah atau komunitas di tingkat kecamatan, kabupaten/kota, dan provinsi.

“Ada reward dari pemerintah dalam bentuk dana pembinaan, kedua ada piala, kemudian ada piagam, karena anak-anak kita ini nanti kalau masuk di jenjang pendidikan lebih tinggi nantinya ada jalur prestasi. Jadi jalur prestasi itu salah satu yang dilampirkan adalah sertifikat atau piagamnya,” beber Agustinus.

“Nah, kemudian yang juara satu nanti itu dibiayai oleh Pemda untuk dikirim ke tingkat provinsi lagi,” lanjutnya.

Salah seorang peserta putri perwakilan Kecamatan Sangalla Selatan sekaligus siswi UPT SDN 6 Sangalla Selatan, Yulan Tandi Arung, mengaku senang berpartisipasi dalam festival ini.

“Perasaan saya mewakili Kecamatan Sangalla Selatan dan sekolah saya ya tentunya senang,” kata Yulan.

“Karena ini sudah di tingkat kabupaten, saya berlatih selama dua minggu diawasi langsung oleh guru. Harapannya kalau bisa juara satu mewakili Tana Toraja,” imbuhnya.

Pantauan Tribun Toraja, peserta FTBI terlihat tampil kompetitif di hadapan dewan juri berbalutkan busana adat khas Toraja. (*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved