Musim Kemarau Namun Masih Sering Turun Hujan? Ini Penjelasan BMKG Toraja
Hal ini disebabkan oleh adanya dinamika atmosfer pada skala regional hingga lokal yang menjadikan peluang hujan di beberapa wilayah Indonesia.
Penulis: Muhammad Rifki | Editor: Apriani Landa
TRIBUNTORAJA.COM - Saat ini, sebagian besar wilayah Indonesia sudah memasuki musim kemarau, termasuk wilayah Tana Toraja dan Toraja Utara.
Namun mengapa hujan masih saja mengguyur di musim kemarau? Beberapa hari terakhir ini, hujan intensitas ringan hingga sedang dirasakan warga Toraja.
"Pernah hujan sepanjang subuh, siangnya mendung terus, makin dingin juga cuacanya," kata Nilam, warga Rantelemo, Tana Toraja.
BMKG Toraja melalui Prakirawan Cuacanya, Indah Fitrianti, menjawab pertanyaan tersebut.
“Kemungkinan terjadi hujan masih dapat terus berlangsung, hal ini disebabkan oleh adanya dinamika atmosfer pada skala regional hingga lokal yang menjadikan peluang hujan di beberapa wilayah Indonesia,” ucap Indah kepada TribunToraja.com, Selasa (11/7/2023), saat dikonfirmasi secara daring.
“Faktor dinamika atmosfer yang memicu peningkatan pertumbuhan awan hujan saat ini di antaranya adalah aktivitas gelombang Kelvin dan Rossby ekuatorial di sekitar wilayah Indonesia.”
Gelombang Rossby adalah gelombang atmosfer yang bergerak ke arah barat di sepanjang wilayah ekuator dengan periode kurang dari 72 hari.
Gelombang Rossby umumnya bisa bertahan 7-10 hari di wilayah Indonesia.
Sedangkan gelombang Kelvin adalah gelombang atmosfer yang memiliki arah perambatan ke arah timur.
Namun, periode gelombang Kelvin jauh lebih pendek yaitu 2,5 hingga 20 hari.
“Aktifnya gelombang Kelvin dan/atau gelombang Rossby di suatu wilayah ekuator, maka akan menambah pasokan pertumbuhan awan di wilayah tersebut,” imbuh Indah.
“Selain itu, adanya belokan dan pelambatan angin di sekitar wilayah Indonesia bagian utara karena munculnya pola sirkulasi di sekitar Laut Cina Selatan dan utara Sulawesi yang memicu peningkatan pertumbuhan awan hujan.”
Berdasarkan analisis BMKG Toraja beberapa hari belakangan dan ke depan, menunjukkan adanya daerah belokan angin yang menyebabkan terjadinya hujan.
“Analisis yang kami lakukan beberapa hari terakhir dan beberapa hari ke depan menunjukkan adanya daerah belokan angin di sekitar wilayah Toraja yang menyebabkan terjadinya hujan,” beber Indah.
“Dengan munculnya fenomena shearline, terjadi belokan angin yang kuat dan menyebabkan penumpukan massa udara, serta dapat berakibat pada pertumbuhan awan hujan yang cukup intensif.” pungkasnya.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/toraja/foto/bank/originals/11072023_mendung.jpg)