Komunitas
Kota Salatiga Jadi 'Safe Haven' bagi Orang Toraja terkhusus Muda-mudi Lewat PKMST
PKMST Salatiga tidak hanya menghimpun mahasiswa-mahasiswi Toraja saja di dalamnya, tetapi juga siswa sekaligus orang tua.
Penulis: Muhammad Rifki | Editor: Muh. Irham
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/toraja/foto/bank/originals/PKSMT-Salatga.jpg)
TRIBUNTORAJA.COM - Kota Salatiga yang terletak di Provinsi Jawa Tengah menjadi 'safe haven' bagi warga terkhusus muda-mudi Toraja yang memang merantau ke sana untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.
Telebih dengan kehadiran Persekutuan Keluarga Mahasiswa Siswa Toraja (PKMST) Salatiga.
Hal ini disampaikan langsung oleh Ketua PKMST Salatiga periode 2022/2023, Adityo Dhivo Rienanda P. melalui podcast yang dilakukannya bersama TribunToraja.com, Kamis (8/6/2023).
Menurut Dhivo sapaan akrabnya, PKMST Salatiga tidak hanya menghimpun mahasiswa-mahasiswi Toraja saja di dalamnya, tetapi juga siswa sekaligus orang tua.
"Orang-orang kan kenal PKMST ini kebanyakan mahasiswa, sedangkan kenyataannya PKMST ini ada terlibat dari orang tua dan adik-adik yang ada di Salatiga dan berdarah Toraja," ujar Dhivo.
Terdapat sekitar 500 orang Toraja yang berlokasi di Salatiga saat ini yang tergolong ke dalam mahasiswa-mahasiswi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, IAIN Salatiga, dan berbagai lainnya.
"Mungkin orang ketahui yang dulu-dulu itu PKMST kebanyakan Kristen, tapi sekarang kita itu bukan cuma Kristen saja, ada teman kita juga Muslim dan Katolik. Juga mungkin uniknya, kebanyakan anggota PKMST itu bukan hanya dari notabenenya beralamat di Toraja dan datang ke Salatiga untuk kuliah, tetapi perantau dari luar seperti Kalimantan, Papua, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Utara yang berdarah Toraja. Mereka datang ke kami untuk berpartisipasi," beber Dhivo.
Semakin beragamnya latar belakang orang Toraja yang terhimpun dalam PKMST Salatiga menurut Dhivo melahirkan berbagai macam bentuk kegiatan kreatif, baik itu agenda mingguan dan tahunan.
"Sejak saat itu, kegiatan dan kreasi teman-teman di PKMST semakin banyak dengan tujuan untuk dapat bergaul bersama, berkumpul bersama, dan memperlihatkan budaya Toraja kita di sini," ucap Dhivo.
"Untuk agenda kegiatan mingguan, kita ada ibadah dan olahraga bersama. Di mana olahraga yang kita lakukan ini memang olahraga modern. Selain itu untuk agenda tahunannya, kita banyak menggelar acara-acara budaya di mana pihak kampus bekerja sama dengan pemerintah setempat terlebih saat awal-awal penerimaan mahasiswa baru," imbuh Dhivo.
Menjadi perantau Toraja yang tinggal jauh dari rumah dan keluarga menjadi terasa lebih mudah menurut Dhivo berkat kehadiran PKMST Salatiga.
"Saya sudah hampir empat tahun sejak awal merantau ke Salatiga. Dan dapat dikatakan semuanya berjalan lancar, karena memang melalui PKMST kita tidak hanya berhimpun tetapi sekaligus menciptakan keluarga di sini, mendapat bantuan serta dorongan. Terlebih alumni PKMST juga banyak yang masih aktif dan peduli sama kita, tidak hanya sekadar lulus dan meinggalkan Salatiga," pungkas Dhivo.
Kota Salatiga sendiri memiliki julukan Kota Kaki Gunung karena berlokasi tidak jauh dari Gunung Merbabu dan Gunung Merapi.
Hal ini juga sekaligus membuat orang Toraja yang terbiasa dengan iklim dingin dapat beradaptasi dengan sangat mudah di Kota Salatiga.(*)