Cuaca Tidak Menentu Bahkan Ekstrim? Ini Penjelasan BMKG Toraja
Lebih lanjut, Indah mengatakan, wilayah Tana Toraja sendiri yang merupakan dataran tinggi cukup unik karena memiliki dua kali puncak musim penghujan.
Penulis: Muhammad Rifki | Editor: Apriani Landa
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/toraja/foto/bank/originals/23052023_Indah_Fitrianti_1.jpg)
TRIBUNTORAJA.COM - Cuaca di Toraja, Sulawesi Selatan, belakangan ini tidak menentu, bahkan cenderung menjadi ekstrim.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Toraja kemudian menjelaskan penyebab hal tersebut.
Pengamat dan Prakirawan Cuaca BMKG Toraja, Indah Fitrianti, mengatakan, saat ini wilayah Toraja memang sedang memasuki peralihan musim atau yang biasa dikenal dengan pancaroba.
“Indonesia itu kan negara tropis ya, jadi dia ada dua musim, musim penghujan sama musim kemarau. Nah dari musim penghujan ke musim kemarau atau sebaliknya itu ada musim peralihan atau pancaroba," kata Indah di Kantor TribunToraja.com, Senin (22/5/2023).
"Hal ini biasanya sering menyebabkan terjadinya cuaca ekstrim, seperti hujan lebat, hujan es atau bisa juga puting beliung,” ujarnya.
Cuaca ekstrim akibat pancaroba menyebabkan hujan lebat di Kabupaten Tana Toraja sehingga sudah terjadi total dua kali bencana longsor dalam waktu yang berdekatan.
Lebih lanjut, Indah mengatakan, wilayah Tana Toraja sendiri yang merupakan dataran tinggi cukup unik karena memiliki dua kali puncak musim penghujan.
“Cuaca di Toraja itu memang lebih dominan ke hujan dibandingkan musim kemaraunya. Pola hujannya itu pola hujan lokal, jadi dia bisa dikatakan memiliki dua puncak musim hujan dalam satu tahun," tambah Indah.
"Biasanya yang paling maksimal itu pada bulan Maret sama April. Kemudian lanjut pada bulan September berbeberan hingga Desember dan sedikit di Januari,” jelas Indah.
Adapun untuk musim kemarau di Kabupaten Tana Toraja sendiri menurut Indah hanya terjadi beberapa bulan saja.
“Untuk musim kemarau di Tana Toraja memang hanya beberapa bulan saja. Hal ini berdasarkan pengamatan data BMKG terkait curah hujan selama 20 tahun. Curah hujan paling rendah itu sekitar bulan Juni hingga Agustus dengan puncak musim kemaraunya pada bulan Juli dan Agustus,” imbuh Indah.
(*)