Psikolog: Berbagi pada Sesama Bisa Bikin Hidup Bahagia
Menurut seorang psikolog anak dan keluarga, Ayank Irma, berbagi itu bisa mengaktivasi hormon kebahagiaan yang ada di otak.
Penulis: Redaksi | Editor: Donny Yosua
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/toraja/foto/bank/originals/ilustrasi-berbagi-memberi-hadiah-ulang-tahun-2-2332023.jpg)
TRIBUNTORAJA.COM - Setiap orang memiliki definisi kebahagiaannya masing-masing.
Namun, melakukan hal kecil dan bermakna melalui kegiatan berbagi dengan sesama ternyata juga bisa membuat hidup kita menjadi lebih bahagia.
Menurut seorang psikolog anak dan keluarga, Ayank Irma, berbagi itu bisa mengaktivasi hormon kebahagiaan yang ada di otak.
Jadi, jika kita memberikan sesuatu kepada orang lain secara tulus, hal itu ternyata akan mengaktivasi hormon bahagia yang juga dikenal sebagai hormon cinta.
"Di otak kita itu ada yang namanya hormon cinta yang memang bisa aktif ketika kita melakukan hal-hal yang penuh dengan kasih sayang dan tulus," jelas Ayank dikutip dari Kompas.com.
"Maka, ketika kita berbagai dengan sesama, itu bisa bikin kita jauh lebih happy yang juga berdampak positif bagi kesehatan mental maupun fisik kita," sambungnya.
Baca juga: Lomba Semarakkan Ramadan Masjid Jabal Nur Berhadiah Puluhan Juta
Di sisi lain, Ayank menambahkan, bahwa praktik berbagi tidak hanya bermanfaat bagi orang-orang yang memberi, melainkan juga yang menerimanya.
"Untuk orang yang menerima pemberian, hal ini bisa membuat mereka menjadi lebih percaya diri karena mereka merasa diperhatikan," katanya.
"Kalau seseorang merasa diperhatikan, self confidence dan harga dirinya pun akan lebih baik, tidak merasa sendirian, dan itu semua meningkatkan rasa bahagia sehingga ikut termotivasi untuk melakukan apa pun tujuan hidupnya," jelasnya lagi.
Baca juga: Jelang Ramadan 1444 H, Masjid Nurul Swadaya Rantelemo Tana Toraja Berbenah
Bahagia Itu Pilihan
Menurut penelitian, rasa bahagia juga bisa menular.
Kendati demikian, rasa bahagia ternyata adalah sebuah pilihan.
Keputusan untuk menjadi bahagia atau tidak, ada di tangan masing-masing.
“Hal ini juga tergantung dari cara kita menyikapi situasi dan segala sesuatu yang terjadi dalam hidup,” kata psikolog Jovita Ferliana M.Psi, dikutip dari Kompas.com.
Baca juga: Sambut Ramadan 1444 Hijriah, Jamaah Masjid Besar Rantepao Bersih-Bersih Masjid
Ia menekankan, yang tidak boleh dilupakan sebelum berbagi kebahagiaan dengan orang lain, sebaiknya kita juga terlebih dahulu merasa bahagia.
Masa pandemi telah menunjukkan kepada kita bahwa kita dapat membuat orang lain bahagia dengan memberi yang tidak selalu berbentuk materi.
“Berbagi happy bisa dengan menjadi tempat curhat, menanyakan kabar teman, mengajak video call untuk berbagi cerita, atau sesimpel memberikan senyuman,” kata Jovita.
(*)