Ferdy Sambo - Putri Candrawathi: Akhir Kisah Cinta yang Janggal
Kisah cinta ini terkuak di muka persidangan. Putri mengaku sangat mencintai Sambo dan Sambo pun setengah mati mencintai Putri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/toraja/foto/bank/originals/ferdy-sambo-putri-candrawathi-1012023.jpg)
Penulis: T Agus Khaidir/TribunMedan
TRIBUNTORAJA.COM - Saya pernah membaca sejumlah kisah cinta yang janggal. Saya mulai dari novel berjudul 'Geek Love', ditulis Katherine Dunn dan diterbitkan tahun 1989.
Berkisah perihal sepasang pemilik sirkus keliling, Aloysius Binewski dan istrinya, Crystal.
Dunn menggambarkan keduanya hidup dalam cinta yang hampir-hampir sulit diterima logika.
Demi menyelamatkan sirkus keliling mereka yang diambang bangkrut, Al, sapaan Aloysius Binewski, memberi istrinya yang dipanggilnya 'Lil', berbagai asupan berbahaya. Mulai dari berbagai obat-obatan terlarang sampai larutan radioaktif.
Asupan ini dikonsumsi Lil sebelum dan sesudah mereka bercinta, dan makin rutin di masa kehamilan. Tujuannya agar Lil melahirkan bayi-bayi yang ajaib.
Upaya ini membuahkan hasil. Dari sekian bayi yang lahir, terdapat empat bayi ajaib. Ada Arturo atawa Arty yang bisa hidup di dua alam.
Nama panggungnya 'Aqua Boy'. Kemudian Electra (Elly) dan Iphigenia (Iphy), kembar siam jelita; Olympia alias Oly, mahluk bungkuk albino, dam Fortunato.
Nama terakhir, yang disapa Chick, kelihatan normal, tapi punya kemampuan super hero, khususnya telekinetik.
Tentu saja, 'Geek Love' kelewat ngawur dan rasa-rasanya memang mustahil terjadi di dunia nyata. Namun kisah cinta Burton N. Pugach dan Linda Riss memang benar-benar terjadi.
Tahun 1959, Burt Pugach, seorang pengacara, mengupah tiga orang untuk mencelakai Linda, pacar gelapnya. Linda buta akibat siraman air keras dan Burt ditangkap dan dipenjarakan 14 tahun.
Alih-alih "putus" dan saling menjauh, mereka justru berhubungan kian intens. Dari penjara Burt kerap mengirimkan surat-surat cinta dan Linda rutin mengunjunginya.
Setelah Burt bebas hubungan mereka bertambah intim sampai kemudian memutuskan menikah pada tahun 1974 dan bertahan sampai Linda Riss meninggal dunia 22 Januari 2013.
Kisah ini ditulis Berry Stainback dan diterbitkan tahun 1976 dengan judul 'A Very Different Love Story'.
Kini satu kisah cinta lain menambah referensi saya. Kisah Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi. Mereka bukan sebangsa Al dan Lil Binewski. Mereka nyata, tapi bukan pula seperti Burt Pugach dan Linda Riss.
Kisah cinta Sambo dan Putri membuat satu nyawa melayang, melibatkan banyak orang dan membikin heboh seantero Indonesia, dan awal dari ini semua adalah skenario yang penuh lubang dan cenderung bodoh, dan oleh sebab itu dengan cepat berakhir sebagai kegagalan dan membuat keduanya ditangkap dan diseret ke pengadilan.
Kisah cinta ini terkuak di muka persidangan. Putri mengaku sangat mencintai Sambo dan Sambo pun setengah mati mencintai Putri.
Rasa cinta yang besar inilah yang menjadi dorongan kenapa ia; seorang perwira tinggi polisi berpangkat Inspektur Jenderal, seorang yang menduduki jabatan Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Kadiv Propam) Polri, sampai harus memerintahkan pembunuhan terhadap Nofiansyah Yosua Hutabarat, polisi berpangkat rendah yang merupakan ajudannya sendiri.
Menurut Sambo, emosinya menggelegak tatkala Putri mengakui dirinya dilecehkan secara seksual oleh Yosua.
Sampai di sini, ketidaklogisan kenapa seorang Irjen harus turun tangan sendiri untuk menyelesaikan seorang Brigadir, berubah menjadi logis. Cinta bisa membutakan siapa saja.
Dua kisah dari Kerajaan Inggris bisa dikedepankan: Edward VIII melepas gelar kebangsawanannya (dan mahkotanya sebagai raja) demi cintanya kepada Wallis Simpson, dan lebih delapan dekade berselang, Pangeran Harry melakukan hal yang kurang lebih sama.
Dalam hal Sambo, cinta ini telah berkaitpaut dengan harga diri pula. Seorang Brigadir, ajudannya sendiri, berani berbuat tidak senonoh kepada istrinya, kepada Putri, perempuan yang dicintainya setengah mati.
Sedikit agak mirip dengan legenda Raja Arthur dan Lancelot. Raja Arthur murka setelah mendengar selentingan bahwa Lancelot, orang kepercayaannya, yang telah ia anggap sebagai anaknya, bermain cinta-cintaan dengan istrinya yang rupawan, Lady Guinevere.
Namun persidangan kemudian ternyata tidak mengarah ke cinta tiga segi Arthur, Guinevere, dan Lancelot, melainkan justru lebih mengarah ke kisah yang dipapar dalam kitab suci dua agama besar, Islam dan Kristen. Kisah perihal Yusuf, atawa Yosef, nabi yang tampan.
Putri Candrawathi mengaku dilecehkan secara seksual oleh Brigadir Yosua, tapi majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan yang menyidangkan perkara ini tidak menemukan kebenarannya.
Para hakim justru berpendapat bahwa Putri tidak dilecehkan oleh Yosua. Tidak pernah ada percobaan pemerkosaan. Sebaliknya, hakim bilang, Putri sakit hati terhadap sikap Yosua, lalu melancarkan fitnah.
Sedikit banyak mirip Yusuf yang mendapat fitnah dari Zulaikha (dalam Alquran, sementara dalam Injil disebut sebagai ‘Istri Potifar’).
Namun berbeda dari Potifar, atau Qithfir bin Rawhib dalam Islam (disebut juga Imra’atul Aziz), yang memenjarakan Yusuf, atas pengaduan Putri perihal tindakan Yosua, Fredy Sambo langsung meledak. Konon diawali tangis pula.
Ia kemudian memerintahkan ajudannya yang lain, Bharada Richard Eliezer Pudihang Lumiu, untuk menembak Yosua, yang, setidaknya seperti diungkap di pengadilan, lantaran merasa tertekan dan takut, kemudian melaksanakan perintah itu sembari menutup mata. Richard menembak Yosua beberapa kali.
Persidangan sudah barang tentu mencuatkan pembelaan-pembelaan Sambo dan Putri. Ada kalimat-kalimat yang mendayu.
Kalimat yang hendak ditendensikan mengharukan. Ada air mata, yang mengaca, yang mengalir membelah pipi maupun yang membuncah hebat meledakkan tangis.
Lagi-lagi, cinta yang dikedepankan. Sambo dan Putri mencoba menekankan kepada majelis hakim, juga kepada publik yang mengikuti persidangan, bahwa cinta yang diganggu, cinta yang dirusak, dapat membuat siapapun hilang kendali, tak terkecuali seorang jenderal.
Di luar dugaan banyak pihak yang terlanjur skeptis terhadap penyelesaian hukum di Indonesia, persidangan bergerak ke arah yang berbeda.
Hakim ternyata sama sekali tidak terpengaruh pada pembelaan Sambo dan Putri. Tidak terpengaruh pada histeria air mata. Pembunuhan tetap pembunuhan.
Terlebih, ihwal dari pembunuhan ini sendiri, dari persidangan ke persidangan justru tambah kabur.
Dengan kata lain, Sambo, memerintahkan pada Bharada Richard Eliezer untuk melakukan pembunuhan, dengan terencana, tanpa dasar yang betul-betul konkret. Dengan kata yang lain lagi, boleh jadi, dia menghabisi orang yang salah.
Senin, 13 Februari 2023, palu itu pun diketukkan Hakim Ketua Wahyu Imam Santoso.
Pengadilan bergemuruh. Di tempat-tempat lain, di depan televisi yang mengalirkan secara langsung jalannya sidang vonis, orang-orang terhenyak. Ferdy Sambo divonis mati. Lebih berat dari jaksa yang sebelumnya menuntut seumur hidup.
Sambo keluar ruang sidang dengan wajah memerah. Entah malu entah marah.
Putri nyaris pingsan dan harus dipapah menerobos barisan keluarga Yosua yang berteriak menyebut nama Tuhan dan kerumuman wartawan yang hendak mengabadikan wajahnya.
Putri menangis. Menangisi kisah cintanya yang hampir berakhir.(t agus khaidir)
Artikel ini telah tayang di Tribun-Medan.com dengan judul Ferdy Sambo & Putri Candrawathi: Akhir Kisah Cinta yang Janggal, https://medan.tribunnews.com/2023/02/13/ferdy-sambo-putri-candrawathi-akhir-kisah-cinta-yang-janggal?page=all.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir