bunuh diri di Toraja
Psikolog: Orang Bunuh Diri Bukan Karena Mau Mati, Hanya Pasrah
Ia mengatakan, banyak faktor yang memicu seseorang untuk mengakhiri hidupnya, termasuk dengan cara mentuyo.
Penulis: Kristiani Tandi Rani | Editor: Apriani Landa
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/toraja/foto/bank/originals/0402203_Iindarda_Sakkung_Panggalo1.jpg)
TRIBUNTORAJA.COM, MAKALE - Setiap orang memiliki cara tersendiri untuk menyelesaikan masalahnya.
Ada yang meluapkannnya dengan amarah, menangis, dan mencari hiburan.
Namun, tak banyak orang juga yang memiliki pikiran pendek untuk mengakhiri hidup.
Hal ini disampaikan oleh Salah satu psikolog Tana Toraja, Iindarda Sakkung Panggalo saat menjadi narasumber podcast bincang eksklusif #8 dengan tema 'Menyikapi Fenomena Mentuyo di Kalangan Remaja Toraja' yang berlangsung di redaksi Tribun Toraja, Sabtu (4/2/2023).
Ia mengatakan, banyak faktor yang memicu seseorang untuk mengakhiri hidupnya, termasuk dengan cara mentuyo.
"Penyebab seseorang melakukan mentuyo itu sebenarnya tidak ada yang pasti," katanya.
Namun, akar masalah seseorang melakukan mentuyo selalu karena masalah hidup yang dialaminya.
"Setiap orang pasti punya alasan yang berbeda-beda untuk melakukan itu, yang pasti adalah diawali dengan masalah," ujar dosen psikolog asal UKI Toraja ini.
Dari segi psikologi, ia membantah bahwa seseorang yang mentuyo bukan karena hasrat untuk mengakhiri hidup, tapi karena pasrah akan masalah yang dialaminya.
"Kalau dari sisi psikologi orang yang melakukan mentuyo itu bukan karena dia mau mati, tapi karena dia memiliki masalah yang dia sudah tidak sanggup untuk menyelesaikan," jelas Iindarda.
Biasanya orang yang mengakhiri hidup dengan mentuyo relatif berpikir pendek dan pasrah akan beratnya beban kehidupan yang dialaminya.
"Dia menganggap bahwa mentoyo itu adalah jalan satu-satunya yang bisa dia lakukan. Jadi orang yang melakukan mentuyo itu, bukan karena dia mau mati tapi karena menyerah dengan keadaan," tutur alumni almamater UKSW ini.
Padahal, tidak ada masalah yang lebih besar dari diri sendiri. Di situlah fungsi berbagi dan penebalan iman.
(*)