Tongkonan
Makna Ukiran di Lumbung Bagi Masyarakat Toraja
Keindahan seni arsitektur bangunannya yang unik juga mampu menarik perhatian setiap pengunjung yang datang ke Toraja.
Penulis: Kristiani Tandi Rani | Editor: Apriani Landa
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/toraja/foto/bank/originals/29012023_Ukiran_Toraja.jpg)
TRIBUNTORAJA.COM, MAKALE - Toraja selalu menyimpan keunikan tersediri, tak hanya menyimpan keindahan alam yang menakjubkan.
Keindahan seni arsitektur bangunannya yang unik juga mampu menarik perhatian setiap pengunjung yang datang ke Toraja.
Dari Toraja juga lahir berbagai kesenian, salah satunya adalah seni ukir.
Seni ukir oleh masyarakat Toraja disebut Passura'.
Setiap dinding sudut bangunan masyarakat Toraja dihiasi dengan berbagai macam ukiran.
Menariknya, ternyata ukiran-ukiran itu tidak hanya untuk memperindah bangunan saja.
Tapi merupakan mengandung makna yang mendalam, salah satunya menentukan tingkat kedudukan dalam masyarakat.
Salah satunya adalah ukiran pada lumbung, bagi masyarakat Toraja setiap ukiran memiliki makna dan arti yang terkandung dari setiap ukiran tersebut.
Lumbung sendiri berfungsi untuk menyimpan padi bagi masyarakat Toraja, dan dalam upacara adat lumbung ditempati oleh kaum bangsawan untuk duduk.
Salah satu tokoh masyarakat, YP Patintingan, mengatakan, setiap ukiran di lumbung memiliki artinya sendiri dan ada aturannya.
"Tidak semua ukiran di lumbung itu memiliki makna yang sama, menunjukkan status sosial seseorang," katanya.
Salah satu ciri mendasar adalah menunjukkan status sosial seseorang. Bagi kaum puang harus menggunakan ukiran yang identik dengan warna putih.
"Untuk golongan bangsawan atau puang, menggunakan ukiran gayang dan ayam putih," tuturnya.
Untuk golongan masyarakat biasa atau kelas menengah biasanya hanya menggunakan ukiran biasa, dan tidak diizinkan untuk menggunakan warna putih.
"Untuk golongan masyarakat biasa hanya menggunakan ukiran ayam biasa, biasanya berwarna hitam, merah, dan tidak berwarna putih," jelasnya.
Bagi masyarakat Toraja secara umum, semua masyarakat memiliki hak untuk membangun lumbung. Hanya, bagi kaum budak pada zaman dahulu tidak diizinkan untuk mengukir lumbungnya.
"Untuk kaum budak pada zaman dahulu bisa membangun lumbung, tapi tidak memiliki ukiran, dan tidak memiliki lesung," ujarnya.
Dalam masyarakat Toraja warna putih sangat sakral, karena menunjukkan derajat puang atau raja. (*)