Stunting

Angka Stunting Toraja Utara Terus Menurun, Tahun Ini Ditarget di Bawah 13,28 persen

Di tahun 2021, prevalensi stunting di Toraja Utara 13,87 persen. Kemudian di tahun 2022 turun menjadi 13,28 persen.

Penulis: Freedy Samuel Tuerah | Editor: Apriani Landa
TribunToraja/Freedy Samuel
Kepala Dinas Kesehatan Toraja Utara, Elizabeth 

TRIBUNTORAJA.COM, RANTEPAO - Pemerintah Daerah (Pemda) Toraja Utara, Sulawesi Selatan (Sulsel), terus berupaya menekan stunting.

Hasilnya pun mulai terasa. Angka prevalensi stunting di Toraja Utara dari tahun ke tahun terus menurun.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Toraja Utara, Elizabeth, kepada TribunToraja.com, saat ditemui di ruangannya di kantor dinas-dinas Lingkungan Marante, Kecamatan Tondon, Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan, Rabu (25/1/2023).

Ia mengatakan, di tahun 2021, prevalensi stunting di Toraja Utara 13,87 persen. Kemudian di tahun 2022 turun menjadi 13,28 persen.

Di mana sebanyak wasting (berat badan di bawah normal sehubungan dengan tinggi badan) sebanyak 433 anak atau 3,40 persen dan under weight (berat badan rendah dari usianya) sebanyak 1.127 anak atau 6,23 persen.

"Puji Tuhan, apa yang dilakukan selama ini membuahkan hasil. Angka pravelensi stunting bisa ditekan," tuturnya.

Perlu diketahui, beberapa tahun lalu, ramai dibicarakan terkait tingginya kasus stunting di kabupaten-kabupaten yang berada di Sulawesi Selatan, termasuk di Kabupaten Toraja Utara dan Kabupaten Tana Toraja.

Di balik itu, ternyata banyak hikmah dipetik. Semua pihak, terpadu menyelesaikan masalah stunting dengan intervensi gizi sensitifnya.

Stunting merupakan kondisi medis gagal tumbuh disebabkan kelainan gizi yang berlangsung lama.

Penyebabnya ada berbagai hal, diantaranya persoalan kesehatan, sektor lingkungan, kondisi tempat tinggal, ketahanan pangan dan perencanaan berkeluarga.

Untuk mengatasi stunting, banyak hal dilakukan.

Salah satunya membuat perumahan layak huni, beda rumah, sidak ODF, pemeriksaan kesehatan ibu hamil sejak hamil muda hingga melahirkan serta perbaikan pengelolaan gizi.

Jika ada desa dan kecamatan menjadi locus (tempat/lokasi) stunting, maka ditangani secara komperensif.

Intervensi spesifik perlu dilakukan oleh Dinas Kesehatan, dan intervensi sensitif dilakukan oleh dukungan dari sektor lainnya.

Harus ada management kelola yang terpadu dalam pemenuhan gizi disuatu daerah.

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved