Masyarakat Adat

Kenapa AMAN Harus Hadir? Ini Penjelasan Rukka Sombolinggi

Ia memaparkan, ada banyak terjadi kemiskinan di masyarakat karena terjadi perampasan wilayah adat.

Penulis: Agatoni Buttang | Editor: Apriani Landa
Tribun-Papua.com/Tribun Network
Rukka Sombolinggi asal Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan, maju sebagai Calon Sekjen AMAN periode 2022-2027, Sabtu (29/10/2022). 

TRIBUNTORAJA.COM - Aliansi Masyarakat Adat Nusantara atau AMAN lahir tahun 1999 untuk memperjuangkan hak-hak masyarakat adat sekaligus menjadi organisasi solidaritas bagi masyarakat adat di seluruh Nusantara.

Ini dijelaskan Sekjen AMAN, Rukka Sombolinggi, saat berada di redaksi TribunToraja.com beberapa waktu lalu.

AMAN hadir sebagai bentuk kegelisahan bahwa pendiri bangsa Indonesia mengakui adanya masyarakat adat, namun hak-hak hanya berhenti pembahasannya dalam UUD 45.

"Sampai detik ini, belum ada secara khusus undang-undang yang memastikan bagaimana Indonesia bisa memenuhi, mengadministrasi, dan bisa melindungi yang disebut dengan masyarakat adat dan haknya," kata Rukka.

Menurutnya, sejak Indonesia merdeka, masyarakat menjadi terkotak-kotak karena sektoral. Ini menjadi alat legalisasi untuk merampas wilayah adat.

"Lahan adat dirampas dan diberikan kepada pengusaha dan dijadikan tambang atau perkebunan sawit. Bahkan ada yang ambil untuk pembangunan jalan tanpa diminta (ijin), tanpa diberitahu sama sekali," ucap wanita asal Nanggala, Toraja Utara, ini.

"Nah itu yang menjadi keprihatinan utama, menjadi konsen utama, kenapa lahir gerakan masyarakat adat (AMAN) di Indonesia," tambahya.

Ia memaparkan, ada banyak terjadi kemiskinan di masyarakat karena terjadi perampasan wilayah adat.

Menurutnya, hal itu terjadi terus menerus karena negara ini tidak punya framework (kerangka kerja) untuk melindungi dan mengakui dan mengadministrasi masyarakat adat, termasuk mengadministrasi yang disebut dengan tanah wilayah yang kolektif.

Di Toraja, kampung halaman Rukka Sombolinggi pun tidak luput dari kejadian seperti itu.

"Itu banyak masalah bisa temukan di Toraja," ucapnya.

Karena itu, dibentuklah AMAN pada thun 1999 untuk menyuarakan kegelisahan dan berjuanga bersama, masyarakat adat yang senasib sepenanggungan.

Rukka menyebutkan, masyarakat adat di seluruh Nusantara saat ini ada sekitar 20 juta jiwa, itu anggota AMAN. Ada 2.249 komunitas anggota AMAN, termasuk yang di Toraja.

"Kami punya 114 pengurus daerah. Di Toraja ini namanya AMAN Toraya yang meliputi dua kabupaten," katanya.

"Aman Toraya berdiri sebelum ada pemekaran. Ini melayani 32 wilayah adat," katanya.

Meski ada pemekara pemerintahan, pengurus AMAN Toraja memutuskan untuk tidak ada pemekaran pengurus, tetap menjaga keutuhan.

Sulawesi Selatan ini unik, kata Rukka, karena ada dua pengurus wilayah. AMAN Sulsel ini masih melayani yang di Sulawesi Barat karena waktu AMAN Sulsel berdiri, belum ada pemekaran provinsi.

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved