Minggu, 24 Mei 2026

Gereja Toraja

Sejarah Gereja Toraja Pertama di Makassar -2-

Pembangunan Gedung Pertemuan dan Passangrahan dimulai pada Januari 1931 dan ditahbiskan pada hari Senin, 1 Juni 1931.

Tayang:
Penulis: Freedy Samuel Tuerah | Editor: Apriani Landa
zoom-inlihat foto Sejarah Gereja Toraja Pertama di Makassar -2-
Kolase Tribun Toraja
JEMAAT BAWAKARAENG - Gereja Toraja Jemaat Bawakaraeng dulu dan sekarang (foto: Freedy Samuel) 

Mereka adalah Prof dr Randanan Bandaso MSc, Prof Dr dr Daniel Sampepajung SpB(K)Onk, Drs Alex Palinggi, Capt Simon Mangngi.

Di bagian teknis juga bergabung Dr Ir Victor Sampebulu dan Prof Dr Herman Parung, serta masih banyak lagi.

Walaupun belum rampung seratus persen, gedung baru Gereja Toraja Jemaat Bawakaraeng dapat ditahbiskan pada tanggal 31 Oktober 2009 oleh Ketua BPMS Gereja Toraja, Pdt Soleman Batti MTh, bersama Wakil Walikota Makassar, H Supomo Guntur.

Turut hadir dalam acara penahbisan beberapa tokoh Toraja seperti Komjen Pol Insmerda Lebang, Litha Brent, Wakil Bupati Tana Toraja - A Palino Popang.

Adapun dana yang digunakan sampai dengan rampungnya gedung Gereja ini kurang lebih Rp 3,5 miliar yang semuanya bersumber dari persembahan jemaat, diaspora Toraja dalam dan luar negeri, serta pemerintah Kota Makassar maupun Kabupaten Tana Toraja.

Perkembangan Gereja Toraja di Makasaar hingga hari ini

Gereja Toraja di Makassar berkembang pesat dimulai dari mekar menjadi tiga jemaat melalui keputusan pleno majelis Gereja pada tanggal 28 Februari–2 Maret 1964 yaitu Gereja Toraja Jemaat Makassar Bagian Tengah (Bawakaraeng), Gereja Toraja Jemaat Makassar Bagian Utara (Bontoala), dan Gereja Toraja Jemaat Makassar Bahagian Selatan (Labuang Baji).

Kemudian membentuk Klasis (dahulu Komisi Usaha Klasis atau disingkat KUK, sekarang Badan Pekerja Klasis atau disingkat BPK) pada tanggal 21 Agustus 1964.

Melalui Sidang Klasis ke-14 tanggal 16–17 April 1973, seiring dengan perubahan nama Kota Makassar menjadi Ujung Pandang, nama Jemaat pun menyesuaikan menjadi Jemaat Ujung Pandang Tengah, Jemaat Ujung Pandang Utara, dan Jemaat Ujung Pandang Selatan.

Sampai dengan Sidang Klasis ke-21 pada tanggal 10 – 13 Juni 1983, Jemaat Ujung Pandang Tengah secara resmi berganti nama menjadi Gereja Toraja Jemaat Bawakaraeng sekaligus mekar melahirkan Jemaat Maccini Raya.

Perkembangan selanjutnya, dari Labuang Baji mekar lagi melahirkan Jemaat Bunturannu, Jemaat Dadi, Jemaat Tamalate, dan seterusnya ke selatan;

Dari Bontoala kemudian mekar melahirkan Jemaat Ujung Pandang Timur (Tello Batua), Jemaat Rama, Jemaat Biringkanaya, dan seterusnya.

Sedangkan dari Bawakaraeng sendiri mekar melahirkan Jemaat Maccini Raya dan Jemaat Bara-baraya.

Perkembangan Gereja Toraja di Klasis Makassar ini terus berlanjut termasuk hingga ke Pulau Jawa dan Kalimantan.

Klasis Makassar sendiri sebelum mekar telah berjumlah 34 jemaat dan persidangan Klasis ke-46 pada tangal 20 hingga 23 September 2017 telah memekarkan Klasis Makassar menjadi tiga Klasis yaitu Klasis Makassar, Klasis Makassar Tengah, dan Klasis Makassar Timur.

Puji Tuhan, walaupun di masa 2 tahun pasca pandemi Covid-19, jemaat maupun pendeta, pekerja sinode tetap survive dengan mengadakan ibadah live streaming (daring), hingga di tahun 2022 dan awal tahun 2023 jemaat bahkan seluruh masyarakat Indonesia dapat melewati fase ini dengan tertatih dan terlatih.(*/selesai)

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved